Oleh: Soleh Amini Yahman, PsikologLANGIT7.ID-Rasa malas sering dipahami secara sederhana sebagai kelemahan kemauan atau rendahnya etos kerja. Dalam kehidupan sehari-hari, label “malas” begitu mudah diberikan kepada mereka yang menunda pekerjaan, kehilangan semangat belajar, atau tampak tidak produktif dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Mahasiswa yang berhari-hari tidak menyentuh skripsi atau disertasi dianggap kurang disiplin. Dosen yang kehilangan gairah menulis dipandang tidak lagi produktif. Padahal, di balik perilaku yang tampak malas itu sering tersembunyi pergulatan psikologis yang jauh lebih kompleks. Kemalasan dalam banyak kasus bukan sekadar ketidakmauan untuk bergerak, melainkan bahasa sunyi dari kelelahan mental, kehilangan makna, dan krisis eksistensial manusia modern.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial sekaligus makhluk intelektual. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan keterhubungan, kontribusi, dan pengakuan dalam kehidupan bersama. Sebagai makhluk akademis, manusia membutuhkan makna dalam proses berpikir, belajar, dan berkarya.
Namun kehidupan modern justru sering menjauhkan manusia dari kedua hal tersebut. Dunia yang bergerak sangat cepat membuat produktivitas menjadi ukuran utama keberhasilan. Manusia didorong terus-menerus untuk bekerja, menghasilkan, menulis, menerbitkan, dan mencapai target tanpa henti. Dalam situasi demikian, banyak orang hidup dalam tekanan berkepanjangan tanpa benar-benar memiliki ruang untuk memulihkan dirinya sendiri.
Akibatnya, rasa malas muncul bukan sebagai penyebab utama kemunduran produktivitas, tetapi sebagai gejala dari kelelahan psikologis yang mendalam. Tubuh tampak diam, tetapi pikiran sebenarnya sedang penuh tekanan. Seseorang terlihat menunda pekerjaan, padahal batinnya sedang mengalami kejenuhan emosional. Ia tampak kehilangan disiplin, padahal dirinya sedang kehilangan energi hidup.
Di era digital, kondisi ini semakin diperparah oleh budaya instan yang membentuk manusia menjadi terbiasa memperoleh kenyamanan cepat tanpa proses panjang. Media sosial, hiburan digital, dan arus informasi yang tidak berhenti membuat konsentrasi manusia semakin rapuh. Aktivitas yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran akhirnya terasa berat dan melelahkan.
Fenomena ini tampak sangat nyata pada para pejuang disertasi. Dunia doktoral sering dibayangkan sebagai ruang intelektual yang prestisius, padahal di baliknya terdapat tekanan psikologis yang tidak ringan. Banyak mahasiswa doktoral hidup dalam beban akademik yang panjang: membaca literatur tanpa akhir, menghadapi revisi berulang, tekanan publikasi ilmiah, ekspektasi pembimbing, tanggung jawab pekerjaan, hingga tuntutan keluarga.
Dalam situasi demikian, rasa malas sering muncul sebagai bentuk burnout akademik yang tidak disadari. Burnout akademik adalah kondisi kelelahan emosional, mental, dan intelektual akibat tekanan akademik yang berlangsung terus-menerus.
Pada fase ini, aktivitas yang sebelumnya bermakna perlahan terasa hambar. Membuka file disertasi terasa melelahkan. Membaca jurnal ilmiah yang dulu menarik kini justru menimbulkan kejenuhan. Bahkan menulis satu paragraf saja dapat terasa seperti pekerjaan yang sangat berat.
Dari luar, kondisi ini mudah dinilai sebagai kemalasan. Namun sesungguhnya, yang sedang terjadi adalah menurunnya kapasitas psikologis seseorang akibat tekanan yang terlalu lama dipikul tanpa pemulihan yang memadai.
Yang lebih menyakitkan, banyak pejuang disertasi tidak hanya lelah secara akademik, tetapi juga mengalami kesepian eksistensial. Mereka hidup dalam tekanan untuk segera lulus, menghadapi pertanyaan sosial seperti “kapan selesai?”, sekaligus menyaksikan teman-teman lain tampak lebih cepat berhasil.
Sedikit demi sedikit, mereka mulai menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa tidak dipahami. Pada titik tertentu, perjalanan akademik tidak lagi menjadi ruang pengembangan intelektual, melainkan berubah menjadi sumber kecemasan yang terus-menerus menggerogoti rasa percaya diri.
Dalam banyak kasus, rasa malas pada pejuang disertasi juga berkaitan dengan perfeksionisme. Dunia akademik sering membentuk individu dengan standar tinggi terhadap dirinya sendiri. Mereka ingin tulisannya sempurna, metodologinya kuat, teorinya matang, dan hasil penelitiannya memiliki kontribusi ilmiah yang besar.
Namun standar yang terlalu tinggi justru dapat melumpuhkan tindakan. Ketika seseorang merasa tidak mampu menghasilkan sesuatu yang ideal, ia akhirnya memilih menunda. Menunda menjadi cara untuk menghindari rasa takut gagal. Pada titik ini, kemalasan sebenarnya bukan lawan dari motivasi, melainkan mekanisme pertahanan diri terhadap kecemasan.
Lebih jauh lagi, rasa malas dalam kehidupan akademik sering berakar pada hilangnya makna. Banyak mahasiswa doktoral memulai studi dengan idealisme yang tinggi: ingin berkontribusi bagi ilmu pengetahuan, memperbaiki masyarakat, atau mengembangkan dunia pendidikan.
Namun perjalanan akademik yang panjang dan melelahkan kadang membuat tujuan itu perlahan memudar. Disertasi akhirnya terasa sekadar beban administratif yang harus diselesaikan, bukan lagi perjalanan intelektual yang bermakna. Ketika makna hilang, energi hidup ikut melemah. Manusia dapat bertahan menghadapi kelelahan, tetapi sulit bertahan menghadapi kehampaan.
Karena itu, melawan rasa malas tidak cukup dilakukan dengan tekanan moral seperti “harus lebih rajin” atau “harus lebih disiplin”. Pendekatan seperti itu justru sering menambah rasa bersalah pada individu yang sebenarnya sedang kelelahan.
Yang lebih penting adalah memahami akar psikologis dari kemalasan itu sendiri. Banyak orang bukan tidak mampu bekerja, tetapi terlalu lama hidup dalam tekanan tanpa ruang pemulihan.
Salah satu cara paling efektif untuk keluar dari kondisi ini adalah membangun kembali makna terhadap proses yang dijalani. Disertasi perlu dilihat bukan hanya sebagai syarat memperoleh gelar akademik, tetapi sebagai perjalanan intelektual dan spiritual untuk bertumbuh sebagai manusia.
Ketika seseorang kembali memahami alasan mengapa ia memulai perjuangan itu, energi psikologis biasanya perlahan muncul kembali. Makna adalah sumber daya mental yang sangat penting dalam menjaga daya tahan hidup manusia.
Selain itu, penting untuk mengubah orientasi dari obsesi terhadap hasil besar menjadi penghargaan terhadap langkah-langkah kecil yang konsisten. Banyak pejuang disertasi lumpuh karena membayangkan tugas besar yang harus diselesaikan sekaligus.
Padahal kemajuan ilmiah sesungguhnya dibangun dari proses sederhana yang dilakukan terus-menerus: membaca beberapa halaman, memperbaiki satu paragraf, atau menulis satu ide setiap hari. Konsistensi kecil jauh lebih kuat daripada motivasi besar yang hanya muncul sesaat.
Manusia juga perlu membangun ritme hidup yang lebih sehat dan manusiawi. Produktivitas bukan berarti bekerja tanpa henti hingga mengabaikan kesehatan mental dan relasi sosial.
Otak membutuhkan istirahat, tubuh membutuhkan pemulihan, dan jiwa membutuhkan ketenangan. Dalam banyak kasus, berjalan kaki, tidur yang cukup, berbicara dengan sahabat, beribadah dengan khusyuk, atau mengambil jeda sejenak justru membantu memulihkan energi intelektual yang terkuras.
Dalam perspektif spiritual, perjuangan akademik pada akhirnya bukan hanya tentang menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga tentang pembentukan karakter batin. Kesabaran menghadapi revisi, ketekunan membaca, kemampuan bertahan di tengah kejenuhan, serta keikhlasan menjalani proses panjang merupakan bagian dari pendewasaan diri.
Islam sendiri memandang ilmu sebagai jalan ibadah dan bentuk pengabdian manusia kepada kemaslahatan. Karena itu, melawan rasa malas sesungguhnya bukan hanya upaya menjadi produktif, tetapi juga usaha menjaga amanah kehidupan dan martabat kemanusiaan.
Pada akhirnya, rasa malas bukan selalu tanda lemahnya karakter. Ia sering menjadi sinyal bahwa manusia sedang lelah, kehilangan arah, atau terlalu lama hidup dalam tekanan.
Karena itu, solusi terhadap kemalasan tidak cukup dengan menyalahkan diri sendiri, melainkan dengan membangun kembali makna hidup, menjaga kesehatan mental, memperbaiki ritme kehidupan, dan belajar menerima diri secara lebih manusiawi.
Sebab manusia yang matang bukanlah manusia yang tidak pernah lelah, melainkan manusia yang tetap mampu melangkah perlahan di tengah kelelahan, tanpa kehilangan harapan dan makna hidupnya.
( Drs. Soleh Amini Yahman, M.Si., Psi, adalah dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Beliau ahli dalam bidang psikologi sosial, aktif menulis artikel ilmiah, dan sering memberikan ulasan psikologis terkait fenomena sosial dan agama)
(lam)