LANGIT7.ID-Di sebuah desa, hiduplah seorang pria tua yang miskin namun memiliki seekor kuda putih yang sangat indah. Kuda ini adalah harta berharganya. Orang-orang desa sering memuji, "Wahai orang tua, kau sangat beruntung punya kuda seindah ini." Orang tua itu hanya menjawab, "Mungkin."
Suatu hari, kuda tersebut hilang. Warga desa berkata, "Sungguh sial nasibmu, kuda itu hilang." Orang tua itu menjawab, "Mungkin."
Beberapa hari kemudian, kuda itu kembali, tidak sendirian, melainkan membawa segerombolan kuda liar. Warga desa pun kembali berucap, "Wah, kau sungguh beruntung!" Orang tua itu lagi-lagi menjawab, "Mungkin."
Anak laki-laki satu-satunya dari pria tua tersebut mencoba melatih kuda liar tersebut agar bisa ditunggangi. Saat melatih kuda yang paling liar, si anak terjatuh dan kakinya patah hingga pincang.
Warga desa datang berempati, "Sungguh musibah, anakmu kini cacat karena kuda itu." Orang tua itu tetap tenang dan menjawab, "Mungkin."
Tak lama kemudian, kerajaan mengumumkan perang dan semua pemuda desa wajib mengikuti wajib militer. Anak-anak muda desa pergi dan banyak yang tewas. Namun, anak orang tua tersebut tidak ikut karena kakinya pincang. Warga pun berkata, "Anakmu selamat karena kakinya pincang. Kau beruntung!" Orang tua itu hanya menjawab, "Mungkin."
Pesan MoralCerita ini mengajarkan bahwa apa yang terlihat sebagai nasib buruk saat ini, bisa saja menjadi keberuntungan di masa depan, dan sebaliknya. Orang tua tersebut menunjukkan kebijaksanaan untuk tidak terburu-buru menghakimi sebuah kejadian sebagai kebaikan atau keburukan mutlak(*/saf/komunitas QM)
(lam)