LANGIT7.ID-Jakarta; Di balik sosok tegas seorang Menteri Keuangan, ternyata ada kisah masa lalu yang cukup mengejutkan. Purbaya Yudhi Sadewa, yang kini memimpin Kementerian Keuangan, blak-blakan menceritakan momen kritis dalam hidupnya yang nyaris berujung perceraian.
Kisah ini ia bagikan saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Ibu ke-97. Purbaya mengakui bahwa tanpa "ancaman" dari sang istri di masa lalu, ia mungkin tidak akan berdiri sebagai pejabat negara hari ini.
Nyerah Kuliah karena Tak Paham MateriPurbaya mengenang masa mudanya saat sedang menempuh pendidikan tinggi. Kala itu, ia merasa kesulitan dan hampir putus asa karena tidak kunjung memahami materi kuliah selama satu bulan penuh.
"Waktu saya kuliah, waktu saya susah, 1 bulan kuliah enggak ngerti-ngerti. Saya menghadap dia (istri). Saya bilang, 'Ya sudah kita pulang ke Jakarta'," kenang Purbaya.
Saat itu, sang istri tidak marah dan justru menyetujui ajakan tersebut. Keduanya pun memutuskan kembali ke Jakarta setelah Purbaya menjalani masa kuliah sekitar satu hingga dua bulan.
Diancam Cerai di JakartaNamun, persetujuan sang istri ternyata hanyalah strategi. Sesampainya di Jakarta, Purbaya justru menerima ultimatum keras yang tak disangka-sangka.
"Sampai di Jakarta katanya, 'Kamu saya cerai'," ungkap Purbaya menirukan ucapan istrinya kala itu.
Sang istri rupanya menggunakan ancaman tersebut untuk memecut semangat Purbaya agar tidak menjadi orang yang mudah menyerah. Purbaya pun menilai tindakan istrinya itu sebagai bentuk kasih sayang yang tegas.
"Kejam banget dia. Tapi itu kejam yang positif, dan saya pikir itu peran yang amat signifikan dalam kehidupan saya," ujarnya.
Titik Balik KesuksesanMantan Ketua Dewan Komisioner LPS ini mengakui, jika saat itu istrinya tidak bersikap keras, nasibnya mungkin akan berbeda jauh dari sekarang.
"Kalau enggak, saya sudah jadi pemuda berajulan, Pak ya," tambahnya sambil tertawa.
Dalam pidatonya, Menkeu Purbaya menegaskan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan ekonomi. Ia mengibaratkan negara seperti mesin; jika perempuan tidak dilibatkan, ibarat mesin yang setengah silindernya dimatikan, jalannya akan tersendat.
"Kalau saya sih di rumah clear. Kalau enggak ada istri saya, saya sekolahnya enggak selesai," tutup Purbaya mengapresiasi peran besar sang istri.
(lam)