LANGIT7.ID-, Jakarta - - Peristiwa tragis yang menimpa siswa kelas IV SD, YBR, di
Kabupaten Ngada,
Nusa Tenggara Timur (NTT) menggemparkan Indonesia. Anak berusia 10 tahun itu diduga menggantungkan diri di pohon cengkeh di dekat rumah sang nenek.
Menurut keterangan warga, kematian YBR dipicu dari ketidakmampuan keluarganya membeli peralatan tulis untuk sekolah.
Tragedi ini mengundang perhatian banyak pihak, termasuk ahli sosial.
Guru Besar FISIP Universitas Airlangga (Unair) Prof Bagong Suyanto menyoroti pentingnya memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
kesehatan mental anak-anak, terutama dalam lingkungan sosial yang penuh tekanan.
Baca juga: Gubernur NTT Akui Kegagalan Sistem Atas Kematian Siswa SD di NgadaProf Bagong mengungkapkan bahwa peristiwa seperti ini seharusnya menjadi alarm bagi masyarakat akan pentingnya pemantauan
kondisi psikologis anak-anak di lingkungan sekitar.
“Anak-anak yang tinggal di
daerah terpencil seringkali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan. Juga kurangnya akses terhadap layanan psikologis membuat anak-anak merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan yang cukup,” kata Prof Bagong seperti dikutip dari laman resmi Unair, Jumat (6/2/2026).
Menurut Prof Bagong, keluarga dan lingkungan sekitar berperan dalam mengenali tanda-tanda adanya masalah emosional dan psikologis pada anak.
“Kesehatan mental anak harus menjadi prioritas. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat sekitar sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan,” tegasnya.
Prof Bagong menyebut tekanan kemiskinan memiliki andil besar dalam memengaruhi kesehatan psikologis seorang anak.
Hal ini pula yang dialami oleh YBR, yang menurut keterangan warga Dusun IV, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, dikenal sebagai anak pendiam sekaligus penurut.
Baca juga: Tragedi Ngada Jadi Atensi Nasional, Kemensos dan Kemendikdasmen Usut Kasus Siswa Tak Mampu Beli PenaDi usia 1 tahun 7 bulan, YBR hidup terpisah dengan ibu kandungnya. Ia tinggal bersama sang nenek di sebuah pondok bambu berukuran sekitar 2×3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada.
YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Sementara itu, ayahnya merantau ke Kalimantan lebih dari sepuluh tahun yang lalu dan hingga kini tidak pernah kembali.
“Kondisi ekonomi yang sulit dapat menyebabkan stres dan kecemasan pada anak-anak, yang berimbas pada kesejahteraan mental mereka. Ketika orang tua kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, anak-anak sering kali merasakan dampaknya. Dampak yang muncul baik secara langsung maupun tidak langsung,” jelas Prof Bagong.
Adanya kejadian tragis itu, Prof Bagong menaruh harapan pada pemerintah untuk dapat mengembangkan pendekatan community support system.
Lembaga sosial lokal, kata Prof Bagong, harus banyak terlibat dalam memberikan perhatian pada kesehatan mental anak, khususnya di daerah-daerah terpencil.
“Lembaga harus menciptakan jaringan dukungan yang bisa menjangkau setiap keluarga, terutama yang berada di daerah dengan keterbatasan akses layanan pendidikan,” pungkasnya.
Baca juga: Siswa SD yang Tewas di Ngada, Semasa Hidup Kerap Bantu Nenek Jualan Kayu Bakar(est)