LANGIT7.ID-, Jakarta - - Kasus anak SD dari
Kabupaten Ngada,
Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya karena tidak bisa membeli buku dan pena menjadi perhatian luas.
Ibu kandung korban, Maria Goreti Te'a (47) mengungkapkan pertemuan terakhirnya dengan sang anak, YBR (10) pada pagi sebelum insiden terjadi.
Menurut Maria Goreti, sang anak mengeluh pusing dan tidak ingin pergi ke sekolah.
Baca juga: Cerita di Balik Tewasnya Timothy, Mahasiswa Unud yang Diduga Bunuh Diri karena PerudunganNamun Maria tetap meminta YBR untuk ke sekolah karena takut sang anak ketinggalan pelajaran. Maria pun meminta YBR untuk naik ojek ke sekolah.
Tepat tengah hari, keluarga diguncang
kabar duka yang datang mendadak. Maria Goret kaget, mendengar berita kepergian anak bungsunya, Yohanes.
“Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir ada pergi sekolah,” ungkap Maria seperti dilihat dari kanal Youtube Tribunnetwork, Rabu (4/2/2026).
Maria Goreti membantah tindakan Yohanes mengakhiri hidup karena permintaan uang Rp10.000 untuk membeli pena dan buku.
Dalam pengakuannya, Maria Goreti mengatakan, tidak ada hal aneh yang diperlihatkan sang anak padanya.
Hanya saja, kata Maria Goreti, Yohanes sempat menyinggung tentang bantuan tunai pendidikan dari pemerintah, Program Indonesia Pintar (PIP). Menurut Maria, ia belum menerima bantuan tersebut.
Maria mengungkapkan bahwa Yohanes adalah anak pintar yang kerap mendapat peringkat atas di kelasnya. Bahkan, menurut guru dan lingkungan sekolah, korban merupakan anak yang cerdas dan ceria.
Baca juga: Kerjasama Keluarga Kunci Mencegah Kasus Bunuh DiriProfil YBR, Siswa SD di NTT yang Mengakhiri Hidupnya di Pohon CengkehYBR adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak usia 1 tahun 7 bulan, ia diasuh oleh sang nenek di rumah berdinding bambu.
Ayah Yohanes mencari peruntungan ke Kalimantan sejak 11-12 tahun lalu. Namun hingga kini sang ayah tak pernah pulang.
Selain bersekolah, dalam kesehariannya Yohanes selalu membantu sang nenek menjual sayur, ubi, dan kayu bakar.
Sehari-hari mereka mengandalkan hasil kebun seperti pisang dan ubi sebagai menu andalan.
Menurut keterangan warga, keluarga Yohanes memiliki kesulitan ekonomi sejak ditinggalkan ayahnya. Kondisi ini mempengaruhi pengasuhan anak-anak yang hidup terpisah dan akses pendidikan terbatas.
Keluarga korban diketahui luput dari target sasaran bantuan pemerintah, termasuk bantuan rumah layak huni dan bantuan pendidikan.
Catatan menunjukkan bahwa dari total lima anak, hanya dua orang yang mampu mengakses bangku sekolah secara berkelanjutan.
Baca juga: Tekan Angka Bunuh Diri Mahasiswa, Kampus Harus Ciptakan Iklim Akademik yang HumanisSebelumnya, siswa kelas IV SDN Rutowaja, Desa Nenawea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026) siang
Korban yang ditemukan mengenakan baju olahraga berwarna merah meninggalkan pesan tertulis yang ditujukan untuk ibunya, Maria Goreti.
Berikut isi surat yang ditulis dalam bahasa Bajawa.
Kertas Ti'i Mama Reti"Mama galo Ze'eMama Molo, Galo Ja'o Mata, Mama Ma'e Rita ee MamaMamo Galo Ja'o Mata, Ma'e Woe Rita Ne Gae Nga'o eeMOLO MAMABila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia:
kertas untuk mama RetiMama terlalu kikir (pelit)Mama baik sudah, kalau saya mati mama jangan menangis ee mama. Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee. Selamat tinggal mama.(est)