Industri Halal RI Tumbuh, Bahan Baku Masih Jadi Tantangan Utama
Tim langit 7
Kamis, 07 Mei 2026 - 17:06 WIB
Industri Halal RI Tumbuh, Bahan Baku Masih Jadi Tantangan Utama
LANGIT7.ID-Jakarta; Penguatan rantai pasok halal menjadi fokus utama dalam pengembangan industri halal nasional, seiring meningkatnya daya saing produk Indonesia di pasar global. Upaya ini dinilai penting karena keberhasilan sektor halal tidak hanya ditentukan oleh produk akhir, tetapi juga kesiapan bahan baku dari sisi hulu.
Dalam konteks tersebut, Festival Syawal yang diinisiasi oleh LPPOM hadir sebagai salah satu langkah strategis untuk memperkuat fondasi ekosistem halal. Program ini mendorong keterlibatan pelaku usaha, khususnya sektor mikro dan kecil, agar lebih mudah memenuhi standar halal secara menyeluruh.
Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Budi Santoso, menilai inisiatif tersebut memiliki dampak luas terhadap pertumbuhan industri halal nasional sekaligus posisi Indonesia di tingkat global. “Festival ini bukan sekadar silaturahmi pasca-Ramadan, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi Islam global,” ujar Menteri Perdagangan dalam keterangan resmi, Kamis (7/5/2026).
Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dunia dalam sektor ekonomi Islam berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy 2025. Pencapaian tersebut didukung oleh tren positif ekspor produk halal dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, nilai ekspor halal Indonesia tercatat mencapai 64,42 miliar dolar AS, yang menjadi angka tertinggi sejauh ini.
“Capaian ini menunjukkan bahwa produk halal Indonesia semakin kompetitif dan memiliki peluang besar untuk terus berkembang di pasar global,” tambahnya.
Melihat perkembangan tersebut, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia terus mendorong perluasan pasar, baik domestik maupun internasional. Strateginya mencakup pengamanan pasar dalam negeri, perluasan ekspor, serta program “dari lokal untuk global” yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas UMKM agar mampu bersaing di pasar dunia.
Untuk mendukung hal itu, berbagai fasilitas disiapkan bagi pelaku usaha, mulai dari klinik desain untuk penguatan identitas produk, kemitraan dengan ritel modern, hingga dukungan standarisasi dan pengendalian mutu. Selain itu, tersedia juga program pitching dan business matching daring ke 33 negara guna membuka akses pasar yang lebih luas.
Dalam konteks tersebut, Festival Syawal yang diinisiasi oleh LPPOM hadir sebagai salah satu langkah strategis untuk memperkuat fondasi ekosistem halal. Program ini mendorong keterlibatan pelaku usaha, khususnya sektor mikro dan kecil, agar lebih mudah memenuhi standar halal secara menyeluruh.
Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Budi Santoso, menilai inisiatif tersebut memiliki dampak luas terhadap pertumbuhan industri halal nasional sekaligus posisi Indonesia di tingkat global. “Festival ini bukan sekadar silaturahmi pasca-Ramadan, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi Islam global,” ujar Menteri Perdagangan dalam keterangan resmi, Kamis (7/5/2026).
Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dunia dalam sektor ekonomi Islam berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy 2025. Pencapaian tersebut didukung oleh tren positif ekspor produk halal dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, nilai ekspor halal Indonesia tercatat mencapai 64,42 miliar dolar AS, yang menjadi angka tertinggi sejauh ini.
“Capaian ini menunjukkan bahwa produk halal Indonesia semakin kompetitif dan memiliki peluang besar untuk terus berkembang di pasar global,” tambahnya.
Melihat perkembangan tersebut, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia terus mendorong perluasan pasar, baik domestik maupun internasional. Strateginya mencakup pengamanan pasar dalam negeri, perluasan ekspor, serta program “dari lokal untuk global” yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas UMKM agar mampu bersaing di pasar dunia.
Untuk mendukung hal itu, berbagai fasilitas disiapkan bagi pelaku usaha, mulai dari klinik desain untuk penguatan identitas produk, kemitraan dengan ritel modern, hingga dukungan standarisasi dan pengendalian mutu. Selain itu, tersedia juga program pitching dan business matching daring ke 33 negara guna membuka akses pasar yang lebih luas.