Rp427,9 Triliun Mengalir ke Bank, BI Ingatkan agar Uang Ini Benar-benar Sampai ke Petani hingga UMKM
Sururi al faruq
Jum'at, 08 Mei 2026 - 14:33 WIB
Rp427,9 Triliun Mengalir ke Bank, BI Ingatkan agar Uang Ini Benar-benar Sampai ke Petani hingga UMKM
LANGIT7.ID-Jakarta; Bukan sekadar mencetak rekor, Bank Indonesia (BI) akhirnya membuka keran likuiditas besar-besaran. Hingga April 2026, bank sentral telah mengucurkan dana sebesar Rp427,9 triliun ke seluruh perbankan umum di Tanah Air.
Angka ini bukan tanpa tujuan. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, dana segar itu adalah bagian dari kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang wajib disalurkan ke sektor-sektor prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran, seperti pertanian, perumahan rakyat, koperasi, hingga UMKM.
"Kami beri insentif KLM sampai April sebesar Rp427,9 triliun. Ini untuk memastikan uangnya bergerak ke sektor nyata," tegas Perry dalam konferensi pers KSSK, Kamis (7/5).
Kucuran dana raksasa itu terbagi ke tiga kelompok bank: bank pelat merah mendapat porsi terbesar Rp224 triliun, disusul bank swasta Rp166,6 triliun, dan bank pembangunan daerah (BPD) Rp29,6 triliun.
Agar Kredit Melaju di Tengah Badai Global
Di tengah ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, Perry menyebut BI sengaja menjaga kebijakan makroprudensial tetap longgar. Tujuannya: mendorong intermediasi perbankan (penyaluran kredit) agar terus tumbuh.
"Insentif ini kami arahkan ke sektor prioritas program Asta Cita. Termasuk pertanian, industri, hilirisasi, perumahan, UMKM, dan koperasi. Kebijakan makro kami longgar demi pertumbuhan kredit," ujarnya.
Angka ini bukan tanpa tujuan. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, dana segar itu adalah bagian dari kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang wajib disalurkan ke sektor-sektor prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran, seperti pertanian, perumahan rakyat, koperasi, hingga UMKM.
"Kami beri insentif KLM sampai April sebesar Rp427,9 triliun. Ini untuk memastikan uangnya bergerak ke sektor nyata," tegas Perry dalam konferensi pers KSSK, Kamis (7/5).
Kucuran dana raksasa itu terbagi ke tiga kelompok bank: bank pelat merah mendapat porsi terbesar Rp224 triliun, disusul bank swasta Rp166,6 triliun, dan bank pembangunan daerah (BPD) Rp29,6 triliun.
Agar Kredit Melaju di Tengah Badai Global
Di tengah ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, Perry menyebut BI sengaja menjaga kebijakan makroprudensial tetap longgar. Tujuannya: mendorong intermediasi perbankan (penyaluran kredit) agar terus tumbuh.
"Insentif ini kami arahkan ke sektor prioritas program Asta Cita. Termasuk pertanian, industri, hilirisasi, perumahan, UMKM, dan koperasi. Kebijakan makro kami longgar demi pertumbuhan kredit," ujarnya.