home masjid

Momen Haji Jadi Kesempatan Emas Jemaah untuk Bertaubat Nasuha

Sabtu, 09 Mei 2026 - 04:00 WIB
Di tanah haram, doa dan taubat bukan sekadar kata-kata yang meluncur dari lisan. Ilustrasi: Al-Quran Reading
LANGIT7.ID-Di bawah langit Arafah yang membara atau di tengah kesunyian mabit di Muzdalifah, ada sebuah getaran yang lebih hebat dari sekadar riuh rendah talbiyah. Getaran itu berasal dari dalam dada jutaan manusia yang sedang berdiri di ambang pintu pengampunan. Inilah momen yang disebut oleh Abdulmalik al-Qosim dalam risalahnya sebagai kesempatan emas untuk bertaubat dan menginterogasi diri sendiri. Bagi seorang hamba, berada di tanah suci pada waktu yang mulia bukan sekadar menuntaskan rukun Islam kelima, melainkan sebuah jeda besar untuk menatap kembali noda-noda yang selama ini tersembunyi di balik jubah keduniawian.

Al-Qosim menekankan bahwa waktu dan tempat haji adalah arena terbaik untuk membelenggu diri dengan keinginan kembali kepada Allah. Ia mengajak jamaah untuk berani memperbanyak air mata penyesalan. Seruannya sangat menghujam: cukup sudah catatan amal yang penuh dengan dosa, cukup sudah umur yang tersiakan dalam kelalaian. Pesan ini sejalan dengan fondasi teologis dalam Al-Quran Surah al-Hasyr ayat 18:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).

Mufasir terkemuka Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Quran al-Azhim memberikan interpretasi mendalam terhadap ayat tersebut. Beliau menegaskan bahwa maksud dari ayat ini adalah sebuah perintah untuk menghitung diri sebelum hari penghitungan yang sesungguhnya tiba. Jamaah diminta untuk melihat kembali investasi amal apa yang telah mereka siapkan untuk menghadapi hari pembalasan kelak. Dalam perspektif Ibnu Katsir, haji adalah laboratorium mini kiamat; sebuah tempat di mana manusia dikumpulkan untuk menyadari kefanaan mereka di hadapan Tuhan.

Kesadaran untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri ini juga ditekankan oleh tokoh sufi Malik bin Dinar. Dalam risalah yang diterjemahkan oleh Syafar Abu Difa, Malik bin Dinar mendoakan rahmat bagi hamba yang berani berdialog dengan jiwanya sendiri secara jujur. Seorang hamba yang sanggup berkata kepada dirinya sendiri, "Bukankah engkau pelaku perbuatan nista demikian?" lalu setelah itu ia membelenggu jiwanya agar senantiasa mengikuti kitab Allah sebagai penuntun.

Proses mengikat jiwa ini, dalam pandangan psikologi agama yang dibahas dalam karya ilmiah Prof. Zakiah Daradjat berjudul Peranan Agama dalam Kesehatan Mental (1970), merupakan bentuk katarsis atau pembersihan emosional yang sangat kuat. Penyesalan yang tulus di tanah suci mampu mengintegrasikan kembali kepribadian yang pecah akibat beban dosa dan konflik moral. Haji menjadi terapi spiritual di mana jamaah melepaskan belenggu ego untuk menggantinya dengan belenggu ketaatan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya