home masjid

Pentingnya Sikap Sabar dan Lembut bagi Jamaah Haji di Puncak Ibadah

Ahad, 10 Mei 2026 - 03:00 WIB
Tantangan terbesar bukanlah jarak tempuh dari pemondokan menuju Masjidil Haram, melainkan bagaimana menjaga lidah dan hati agar tetap jernih di bawah tekanan fisik. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Angin gurun yang membawa debu tipis menyapu wajah-wajah letih di sepanjang jalur Mina menuju Jamarat. Di sana, jutaan manusia bergerak dalam satu arus besar, terjepit di antara pundak sesama, beradu dengan cuaca ekstrem, dan keterbatasan ruang yang mencekik.

Dalam situasi sesak yang nyaris tanpa celah tersebut, emosi manusia sering kali berada di titik nadir. Namun, di sinilah risalah Abdulmalik al-Qosim menemukan relevansi terdalamnya. Ia mengingatkan bahwa bagi setiap tamu Allah, sabar bukanlah sekadar kata sifat, melainkan harus menjadi syiar dan pilihan hidup yang utama.

Ibadah haji, sebagaimana dipahami dalam tradisi Islam, adalah manifes dari kesulitan-kesulitan yang sengaja dihadirkan. Al-Qosim dalam risalahnya menekankan bahwa haji berisi kelelahan, bekal yang terbatas, sempitnya kendaraan, kemacetan, hingga panjangnya perjalanan. Tanpa perisai sabar, seorang jamaah akan mudah terjatuh dalam keluh kesah yang merusak nilai ibadahnya. Ia berpesan agar setiap pribadi menjauhkan diri dari menyakiti orang di sekitarnya dan senantiasa berhias dengan sifat lembut serta tenang.

Pesan ini bukanlah sekadar imbauan moral tanpa landasan kuat. Dalam sejarah kenabian, Rasulullah SAW pernah menghadapi situasi serupa. Dari Jabir bin Abdullah, dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah mendengar suara sangat gaduh, benturan, dan lenguhan unta yang menggambarkan ketergesaan dan kekacauan jamaah. Mendengar hal itu, beliau memberikan teguran yang legendaris bagi manajemen emosi umat:

أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ، فَإِنَّ الْبِرَّ لَيْسَ بِالإِيْضَاعِ

Wahai manusia tenanglah tenanglah, sesungguhnya kebaikan itu bukan dengan tergesa-gesa.

Hadis yang diriwayatkan secara Mutafaqun Alaih tersebut menggarisbawahi bahwa kesalehan tidak ditemukan dalam kecepatan gerak fisik atau ambisi untuk mendahului orang lain demi mengejar ritual. Kebaikan justru bersemayam dalam ketenangan batin atau as-sakinah. Dalam riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bahkan mengulang kata tersebut hingga dua kali, yang menandakan betapa krusialnya menjaga ketenangan di tengah hiruk-pikuk massa yang masif.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya