home masjid

Runtuhnya Kepalsuan di Ur Kasdim: Ibrahim Hancurkan Puluhan Berhala di Kuil Agung Babilon

Ahad, 10 Mei 2026 - 04:00 WIB
Kisah Ibrahim mengajarkan bahwa tauhid bukan sekadar konsep teologis di atas kertas, melainkan sebuah gerakan pembebasan mental. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Matahari baru saja tergelincir di ufuk Babilon, namun kegelapan yang sesungguhnya justru baru dimulai di dalam kuil-kuil megah Ur Kasdim. Di sana, ribuan manusia bersujud di hadapan patung-patung bisu yang dipahat dari kayu dan batu. Pemandangan ini menjadi potret muram masyarakat Mesopotamia kuno yang kehilangan kedaulatan berpikirnya. Dalam atmosfir sosiokultural yang menyesakkan inilah, Ibrahim hadir bukan sekadar sebagai pemuda biasa, melainkan sebagai seorang pemikir revolusioner yang membawa misi purifikasi akidah.

Ja'far Subhani dalam karyanya, Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW (hal. 50-69), memotret betapa pekatnya kabut kemusyrikan saat itu. Masyarakat Babilon terbelah dalam beberapa faksi penyembahan. Ada kelompok yang menyembah benda-benda langit seperti bintang, bulan, dan matahari. Ada pula yang menyembah berhala-berhala bumi yang dianggap memiliki otoritas otonom atau setidaknya sebagai perantara menuju Tuhan Yang Mahakuasa. Ibrahim melihat fenomena ini sebagai degradasi martabat kemanusiaan yang paling akut.

Langkah awal Ibrahim adalah melakukan dekonstruksi pemikiran melalui observasi astronomis. Ia mengikuti logika kaumnya terlebih dahulu untuk kemudian meruntuhkannya dari dalam. Ketika melihat bintang yang bersinar, ia sempat berujar itu adalah tuhannya, namun saat bintang itu tenggelam, ia berpaling. Demikian pula pada bulan dan matahari. Melalui metode ini, Ibrahim ingin menegaskan bahwa sesuatu yang terikat oleh hukum ruang, waktu, dan gerak (munqalib) tidak mungkin menjadi Pencipta.

Allah SWT mengabadikan pencarian intelektual ini dalam Al-Quran Surah Al-An'am ayat 79:

إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۟ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Artinya: Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Konfrontasi Ibrahim mencapai puncaknya saat ia memutuskan untuk melakukan aksi langsung. Memanfaatkan momentum festival tahunan ketika penduduk kota pergi keluar, Ibrahim memasuki kuil agung. Dengan sebuah kapak, ia menghancurkan seluruh berhala kecil dan menyisakan yang paling besar, lalu mengalungkan kapak tersebut pada leher berhala yang tersisa. Aksi ini bukan sekadar vandalisme, melainkan sebuah satir politik dan teologis yang tajam.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya