Mantapkan Hilirisasi Riset, ITS Siap Kawal Peta Jalan Riset Strategis Nasional
Dwi sasongko
Ahad, 10 Mei 2026 - 10:06 WIB
Mendiktisaintek Prof Brian Yuliarto ST MEng PhD saat menjelaskan pentingnya keselarasan riset perguruan tinggi dengan agenda strategis nasional. (Dok: Humas ITS)
LANGIT7.ID-Surabaya; Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menegaskan kesiapannya dalam mendukung arah baru riset nasional sebagaimana tertuang dalam Peta Jalan Riset Strategis Nasional 2026–2045 dan Agenda Riset dan Inovasi Strategis Nasional 2026–2029 yang disusun Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI. Komitmen tersebut dibuktikan melalui penguatan hilirisasi riset, percepatan komersialisasi inovasi, hingga keterlibatan aktif para dosen ITS sebagai tim pakar penyusun peta jalan riset nasional tersebut.
Komitmen perguruan tinggi dalam penguatan riset berdampak ini dipertegas langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof Brian Yuliarto ST MEng PhD setelah memberikan kultum subuh di Masjid Manarul Ilmi ITS, Sabtu (9/5). Pada kesempatan tersebut, Brian menekankan bahwa hasil riset dan inovasi perguruan tinggi harus selaras dengan Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) yang dicanangkan Presiden RI Prabowo Subianto.
Menurut Brian, harmonisasi karya inovasi dengan kebutuhan strategis bangsa menjadi hal yang krusial dalam menjawab permasalahan yang ada. “Perguruan tinggi diharapkan dapat menyelaraskan berbagai hasil riset dengan beberapa target nasional, sehingga penelitian itu tidak terpisah dari kebutuhan yang ada,” ungkap Mendiktisaintek dalam keterangan resmi, Minggu (10/5/2026).
Brian menilai ITS adalah salah satu kampus yang memiliki banyak inovasi relevan dengan kebutuhan nasional saat ini. Ia mencontohkan sejumlah karya ITS seperti motor dan traktor listrik, hingga alat panjat kelapa yang dinilai berpotensi mendukung agenda kemandirian pangan dan energi nasional.
Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya kemitraan antara kampus dan industri guna mempercepat hilirisasi hasil riset. Menurutnya, negara maju dengan ekosistem industri besar umumnya ditopang oleh riset perguruan tinggi yang kuat dan terintegrasi dengan kebutuhan industri maupun pemerintah. “Kami akan terus mendorong riset-riset dari ITS, terutama yang selaras dengan program kemandirian pangan dan energi, dimana kedua hal tersebut membutuhkan basis teknologi yang kuat,” tuturnya.
Sebelumnya, Kamis (7/5), Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek RI Dr Mohammad Fauzan Adziman ST MEng juga menggelar pertemuan bersama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII. Pada malam pertemuan tersebut, turut serta sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur, diantaranya adalah ITS, Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur.
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Sidang Senat Akademik Rektorat ITS tersebut turut memberikan penekanan terhadap pentingnya keselarasan riset perguruan tinggi dengan peta jalan riset dan inovasi strategis nasional.
Komitmen perguruan tinggi dalam penguatan riset berdampak ini dipertegas langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof Brian Yuliarto ST MEng PhD setelah memberikan kultum subuh di Masjid Manarul Ilmi ITS, Sabtu (9/5). Pada kesempatan tersebut, Brian menekankan bahwa hasil riset dan inovasi perguruan tinggi harus selaras dengan Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) yang dicanangkan Presiden RI Prabowo Subianto.
Menurut Brian, harmonisasi karya inovasi dengan kebutuhan strategis bangsa menjadi hal yang krusial dalam menjawab permasalahan yang ada. “Perguruan tinggi diharapkan dapat menyelaraskan berbagai hasil riset dengan beberapa target nasional, sehingga penelitian itu tidak terpisah dari kebutuhan yang ada,” ungkap Mendiktisaintek dalam keterangan resmi, Minggu (10/5/2026).
Brian menilai ITS adalah salah satu kampus yang memiliki banyak inovasi relevan dengan kebutuhan nasional saat ini. Ia mencontohkan sejumlah karya ITS seperti motor dan traktor listrik, hingga alat panjat kelapa yang dinilai berpotensi mendukung agenda kemandirian pangan dan energi nasional.
Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya kemitraan antara kampus dan industri guna mempercepat hilirisasi hasil riset. Menurutnya, negara maju dengan ekosistem industri besar umumnya ditopang oleh riset perguruan tinggi yang kuat dan terintegrasi dengan kebutuhan industri maupun pemerintah. “Kami akan terus mendorong riset-riset dari ITS, terutama yang selaras dengan program kemandirian pangan dan energi, dimana kedua hal tersebut membutuhkan basis teknologi yang kuat,” tuturnya.
Sebelumnya, Kamis (7/5), Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek RI Dr Mohammad Fauzan Adziman ST MEng juga menggelar pertemuan bersama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII. Pada malam pertemuan tersebut, turut serta sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur, diantaranya adalah ITS, Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur.
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Sidang Senat Akademik Rektorat ITS tersebut turut memberikan penekanan terhadap pentingnya keselarasan riset perguruan tinggi dengan peta jalan riset dan inovasi strategis nasional.