Makna Simbolik Perlawanan Terhadap Setan dalam Ritual Haji di Mina
Miftah yusufpati
Rabu, 13 Mei 2026 - 16:42 WIB
Ibadah haji, melalui simbol-simbolnya yang kuat, membimbing manusia untuk menyadari arah yang dituju serta perjuangan berat untuk mencapainya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Ibadah haji bukan sekadar ritual fisik yang melelahkan raga, melainkan sebuah teater simbolik yang sangat indah jika dihayati secara mendalam. Setelah melalui fase kontemplasi di padang Arafah, para jamaah bergerak menuju Mudzalifah untuk melakukan sebuah persiapan yang tampak sederhana namun memiliki makna teologis yang kuat. Di sana, mereka mengumpulkan senjata berupa batu-batu kecil untuk menghadapi musuh utama manusia, yakni setan.
M. Quraish Shihab dalam tulisannya yang terhimpun dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, menjelaskan bahwa kemanusiaan dan pengalaman nilai-nilainya mengandung makna yang jauh lebih dalam dari sekadar persamaan antar-individu. Kemanusiaan mencakup seperangkat nilai luhur yang seharusnya menghiasi jiwa setiap pemiliknya, bermula dari kesadaran akan fitrah atau jati diri serta tujuan kehadirannya di pentas bumi ini. Dalam kerangka inilah perjalanan menuju Mina harus dimaknai.
Di Mina, jutaan jamaah haji melampiaskan kebencian dan kemarahan mereka masing-masing terhadap musuh yang selama ini menjadi penyebab segala kegetiran yang dialaminya. Setan, dalam tafsir simbolik ini, adalah representasi dari segala bisikan yang menjauhkan manusia dari jati dirinya sebagai makhluk dwi dimensi yang harus melanjutkan evolusi ruhaninya. Melontar jumrah menjadi saluran katarsis bagi manusia untuk menyerang balik ego dan nafsu yang sering kali merusak tatanan sosial dan kemanusiaan universal.
Shihab berargumen bahwa nilai kemanusiaan mengantar manusia menyadari bahwa ia adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendirian. Oleh karena itu, setiap individu harus memiliki moral serta kemampuan untuk memimpin makhluk-makhluk lain mencapai tujuan penciptaan. Kemanusiaan menuntut setiap orang untuk bertenggang rasa dalam berinteraksi. Ketika seseorang melontar batu di Mina, ia sebenarnya sedang berupaya menghancurkan sekat-sekat keakuan yang selama ini menghalangi terwujudnya lingkungan kemanusiaan yang benar.
Praktik-praktik ritual ini, baik yang bersifat kewajiban maupun larangan, pada akhirnya bertujuan mengantarkan jamaah haji pada pengamalan kemanusiaan universal. Persiapan di Mudzalifah dan amuk di Mina adalah cara simbolis untuk membersihkan diri agar manusia bisa kembali pada fitrahnya. Hal ini sejalan dengan spirit Al-Quran yang menekankan pentingnya memerangi godaan yang merusak hati, sebagaimana diingatkan dalam sebuah dalil:
فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ
Artinya: Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram (Mudzalifah). (QS. Al-Baqarah: 198).
M. Quraish Shihab dalam tulisannya yang terhimpun dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, menjelaskan bahwa kemanusiaan dan pengalaman nilai-nilainya mengandung makna yang jauh lebih dalam dari sekadar persamaan antar-individu. Kemanusiaan mencakup seperangkat nilai luhur yang seharusnya menghiasi jiwa setiap pemiliknya, bermula dari kesadaran akan fitrah atau jati diri serta tujuan kehadirannya di pentas bumi ini. Dalam kerangka inilah perjalanan menuju Mina harus dimaknai.
Di Mina, jutaan jamaah haji melampiaskan kebencian dan kemarahan mereka masing-masing terhadap musuh yang selama ini menjadi penyebab segala kegetiran yang dialaminya. Setan, dalam tafsir simbolik ini, adalah representasi dari segala bisikan yang menjauhkan manusia dari jati dirinya sebagai makhluk dwi dimensi yang harus melanjutkan evolusi ruhaninya. Melontar jumrah menjadi saluran katarsis bagi manusia untuk menyerang balik ego dan nafsu yang sering kali merusak tatanan sosial dan kemanusiaan universal.
Shihab berargumen bahwa nilai kemanusiaan mengantar manusia menyadari bahwa ia adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendirian. Oleh karena itu, setiap individu harus memiliki moral serta kemampuan untuk memimpin makhluk-makhluk lain mencapai tujuan penciptaan. Kemanusiaan menuntut setiap orang untuk bertenggang rasa dalam berinteraksi. Ketika seseorang melontar batu di Mina, ia sebenarnya sedang berupaya menghancurkan sekat-sekat keakuan yang selama ini menghalangi terwujudnya lingkungan kemanusiaan yang benar.
Praktik-praktik ritual ini, baik yang bersifat kewajiban maupun larangan, pada akhirnya bertujuan mengantarkan jamaah haji pada pengamalan kemanusiaan universal. Persiapan di Mudzalifah dan amuk di Mina adalah cara simbolis untuk membersihkan diri agar manusia bisa kembali pada fitrahnya. Hal ini sejalan dengan spirit Al-Quran yang menekankan pentingnya memerangi godaan yang merusak hati, sebagaimana diingatkan dalam sebuah dalil:
فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ
Artinya: Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram (Mudzalifah). (QS. Al-Baqarah: 198).