Mengubur Kezaliman di Tanah Haram: Menghindari Rafats, Fasik, dan Jidal
Miftah yusufpati
Kamis, 14 Mei 2026 - 05:00 WIB
Secara hukum, larangan berbuat maksiat dan menyakiti orang lain berlaku di setiap waktu dan tempat. Ilustrasi: AN
LANGIT7.ID-Perjalanan haji sering kali dipandang sebagai puncak pencapaian spiritual, sebuah pengabdian fisik yang melelahkan namun menjanjikan kesucian. Namun, di balik kemegahan ritual tersebut, terselip sebuah peringatan keras yang mendasar: Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan Dia menjadikannya haram bagi hamba-Nya. Peringatan inimerupakan pondasi moral yang harus dibawa setiap jamaah saat melangkah di padang Arafah, berdesakan di Mudzalifah, hingga melontar di Mina.
Dalam risalah bertajuk Risala ila Ahli Arafah wa Mudzdalifah wa Mina, Abdulmalik al-Qosim menekankan pentingnya menjaga kehormatan sesama muslim. Kezaliman dalam konteks haji mewujud dalam banyak rupa, mulai dari lisan yang melontarkan kalimat melukai hingga tangan yang menyakiti jamaah lain. Sifat tinggi hati, takabur, atau merasa paling tahu adalah benih-benih kezaliman yang harus dikubur dalam-dalam sebelum mengenakan kain ihram.
Landasan filosofis larangan ini berpijak pada firman Allah dalam Al-Baqarah ayat 197:
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ
Artinya: (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berbuat yang tidak senonoh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.
Ayat ini merupakan rambu-rambu etika yang sangat ketat. Ibnu Sa’di dalam tafsirnya memberikan interpretasi mendalam mengenai batasan-batasan tersebut. Ar-rafats, menurutnya, bukan sekadar hubungan kelamin, melainkan segala ucapan atau perbuatan yang mengarah ke sana, terutama di hadapan wanita. Sementara itu, al-fusuk mencakup segala bentuk maksiat, termasuk melanggar larangan-larangan khusus bagi orang yang sedang berihram.
Kategori ketiga, al-jidal atau berbantah-bantahan, sering kali menjadi jebakan bagi jamaah di tengah kepenatan fisik. Ibnu Sa’di memaknainya sebagai tindakan saling mencurigai, berselisih, dan mendendam. Perilaku ini berbahaya karena meninggalkan bekas keburukan dan permusuhan yang menciderai kesucian haji. Padahal, hakikat dari berhaji adalah proses merendahkan diri, luluh di hadapan Sang Pencipta, dan mendekatkan diri melalui segala bentuk ibadah.
Dalam risalah bertajuk Risala ila Ahli Arafah wa Mudzdalifah wa Mina, Abdulmalik al-Qosim menekankan pentingnya menjaga kehormatan sesama muslim. Kezaliman dalam konteks haji mewujud dalam banyak rupa, mulai dari lisan yang melontarkan kalimat melukai hingga tangan yang menyakiti jamaah lain. Sifat tinggi hati, takabur, atau merasa paling tahu adalah benih-benih kezaliman yang harus dikubur dalam-dalam sebelum mengenakan kain ihram.
Landasan filosofis larangan ini berpijak pada firman Allah dalam Al-Baqarah ayat 197:
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ
Artinya: (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berbuat yang tidak senonoh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.
Ayat ini merupakan rambu-rambu etika yang sangat ketat. Ibnu Sa’di dalam tafsirnya memberikan interpretasi mendalam mengenai batasan-batasan tersebut. Ar-rafats, menurutnya, bukan sekadar hubungan kelamin, melainkan segala ucapan atau perbuatan yang mengarah ke sana, terutama di hadapan wanita. Sementara itu, al-fusuk mencakup segala bentuk maksiat, termasuk melanggar larangan-larangan khusus bagi orang yang sedang berihram.
Kategori ketiga, al-jidal atau berbantah-bantahan, sering kali menjadi jebakan bagi jamaah di tengah kepenatan fisik. Ibnu Sa’di memaknainya sebagai tindakan saling mencurigai, berselisih, dan mendendam. Perilaku ini berbahaya karena meninggalkan bekas keburukan dan permusuhan yang menciderai kesucian haji. Padahal, hakikat dari berhaji adalah proses merendahkan diri, luluh di hadapan Sang Pencipta, dan mendekatkan diri melalui segala bentuk ibadah.