Pacuan Waktu di Tanah Berkah: Pentingnya Manajemen Waktu dan Seleksi Pertemanan bagi Jamaah Haji
Miftah yusufpati
Jum'at, 15 Mei 2026 - 03:30 WIB
Di tengah padatnya jadwal ritual di Arafah, Mudzalifah, hingga Mina, jamaah tidak boleh abai terhadap siapa yang mereka jadikan teman bicara. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID - Di bawah langit Makkah yang menyimpan sejarah panjang peradaban, waktu sering kali menjadi musuh yang paling tidak disadari. Pada hari-hari yang penuh berkah ini, setiap individu seharusnya merasakan bahwa waktu sesungguhnya begitu terbatas dan sangat cepat berlalu. Kesadaran akan kefanaan waktu ini bukan sekadar refleksi filosofis, melainkan sebuah alarm bagi jemaah untuk segera memacu diri dalam ketaatan sebelum kesempatan emas itu menguap tanpa jejak.
Abdulmalik al-Qosim dalam risalahnya bertajuk Risala ila Ahli Arafah wa Mudzdalifah wa Mina mengingatkan bahwa kesadaran akan sempitnya waktu harus dibarengi dengan strategi sosial yang tepat. Salah satu langkah krusial adalah berupaya mendapatkan sahabat yang baik dan teman terbaik selama perjalanan suci ini. Di tengah kerumunan yang heterogen, pilihan terhadap lingkaran pertemanan akan sangat menentukan kualitas ibadah seseorang.
Pilihlah mereka yang paling menjaga salat, rajin melakukan ibadah sunnah, dan tekun membaca Al-Quran. Teman seperti inilah yang dapat dijadikan sebagai penolong dan tempat meminta bantuan dalam meniti rute spiritual yang melelahkan. Kehadiran sahabat yang saleh berfungsi sebagai pengingat saat lalai, agar ia menjadi teman perjalanan yang membantu mengencangkan tali pinggang dalam berbuat taat dan melakukan ibadah.
Secara psikologis dan sosiologis, lingkungan terdekat memang memiliki daya pengaruh yang sangat kuat. M. Quraish Shihab dalam buku Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendirian dan harus bertenggang rasa dalam berinteraksi. Kemanusiaan universal dalam haji mengajarkan bahwa kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam lingkungan Allah swt harus didukung oleh ekosistem yang mendukung ketaatan tersebut.
Urgensi waktu ini selaras dengan peringatan dalam Al-Quran surah Al-Ashr ayat 1-3 mengenai kerugian manusia yang menyia-nyiakan waktu:
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.
Abdulmalik al-Qosim dalam risalahnya bertajuk Risala ila Ahli Arafah wa Mudzdalifah wa Mina mengingatkan bahwa kesadaran akan sempitnya waktu harus dibarengi dengan strategi sosial yang tepat. Salah satu langkah krusial adalah berupaya mendapatkan sahabat yang baik dan teman terbaik selama perjalanan suci ini. Di tengah kerumunan yang heterogen, pilihan terhadap lingkaran pertemanan akan sangat menentukan kualitas ibadah seseorang.
Pilihlah mereka yang paling menjaga salat, rajin melakukan ibadah sunnah, dan tekun membaca Al-Quran. Teman seperti inilah yang dapat dijadikan sebagai penolong dan tempat meminta bantuan dalam meniti rute spiritual yang melelahkan. Kehadiran sahabat yang saleh berfungsi sebagai pengingat saat lalai, agar ia menjadi teman perjalanan yang membantu mengencangkan tali pinggang dalam berbuat taat dan melakukan ibadah.
Secara psikologis dan sosiologis, lingkungan terdekat memang memiliki daya pengaruh yang sangat kuat. M. Quraish Shihab dalam buku Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendirian dan harus bertenggang rasa dalam berinteraksi. Kemanusiaan universal dalam haji mengajarkan bahwa kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam lingkungan Allah swt harus didukung oleh ekosistem yang mendukung ketaatan tersebut.
Urgensi waktu ini selaras dengan peringatan dalam Al-Quran surah Al-Ashr ayat 1-3 mengenai kerugian manusia yang menyia-nyiakan waktu:
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.