home global news

200.000 Anak Terpapar Judol, Pemerintah Akui Butuh Kolaborasi Orang Tua dan Tokoh Agama Untuk Stop Perilaku Menyimpang

Sabtu, 16 Mei 2026 - 08:20 WIB
200.000 Anak Terpapar Judol, Pemerintah Akui Butuh Kolaborasi Orang Tua dan Tokoh Agama Untuk Stop Perilaku Menyimpang
LANGIT7.ID-Jakarta; Sebanyak 200.000 anak Indonesia kini telah terpapar judi online (judol). Tak hanya remaja, sekitar 80.000 di antaranya adalah anak di bawah usia 10 tahun. Data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ini bukan sekadar angka, melainkan alarm bahwa serangan judi online telah menyusup hingga ke lingkungan paling pribadi: rumah dan anak-anak.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa memblokir situs dan menindak pelaku saja tidak cukup. Benteng terkuat justru harus dibangun dari kesadaran keluarga dan komunitas. Dalam acara "Indonesia GOID Menyapa Gass Pol Tolak Judol-Jauhi Judol, Anak Medan Pilih Masa Depan" baru baru ini, Meutya menyoroti peran krusial orang tua dan tokoh agama.

"Judi online adalah scam yang sistemnya memastikan pemain hampir selalu rugi. Ini bukan sekadar hiburan digital, tapi ancaman yang merusak ekonomi keluarga, memicu kekerasan rumah tangga, dan menghancurkan masa depan anak-anak kita," tegas Meutya.

Menurutnya, banyak istri dan ibu menjadi korban tidak langsung. Ketika seorang ayah terjerat judol, yang hilang bukan hanya uang, tetapi juga keharmonisan hingga rasa aman di dalam rumah. "Kami mendengar banyak cerita pilu. Ini kehancuran masa depan anak dan ketenangan keluarga," ujarnya.

Oleh karena itu, Meutya mengajak semua pihak untuk bergerak bersama:

· Tokoh agama dan tokoh masyarakat diminta membangun kesadaran kolektif dan budaya anti-judol dari masjid, gereja, hingga musala.

· Orang tua, terutama ibu, didorong menjadi bentuk utama di rumah dengan mengawasi gawai anak, membangun komunikasi terbuka, dan menjadi contoh.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya