Pakar Ekonomi UB: Jaga Optimisme Hadapi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Dwi sasongko
Rabu, 20 Mei 2026 - 14:08 WIB
Pakar Ekonomi UB: Jaga Optimisme Hadapi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
LANGIT7.ID-Jakarta; Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Dr. rer. pol. Wildan Syafitri mengingatkan masyarakat untuk menjaga optimisme dan tidak mudah terbawa persepsi negatif di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus kisaran Rp17.000.
“Kita jangan terlalu terpengaruh berita negatif karena itu bisa membentuk ekspektasi buruk terhadap ekonomi,” ujarnya.
Wildan menyoroti pentingnya ekspektasi masyarakat dan investor terhadap kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, persepsi pasar memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Ketika masyarakat merasa kondisi ekonomi sedang tidak baik atau penuh ketidakpastian, maka permintaan terhadap dolar akan meningkat karena dianggap lebih aman untuk menyimpan nilai aset.
“Ekspektasi masyarakat itu sangat menentukan. Ketika orang merasa dolar lebih aman, maka permintaan dolar meningkat dan rupiah semakin tertekan,” katanya.
Ia menilai kepanikan masyarakat justru dapat memperburuk situasi ekonomi karena masyarakat cenderung menahan konsumsi, mengurangi investasi, dan membeli dolar secara berlebihan.
Wildan menjelaskan bahwa nilai tukar mata uang pada dasarnya dipengaruhi oleh mekanisme permintaan dan penawaran atau demand and supply. Ketika permintaan terhadap dolar Amerika meningkat, sementara permintaan terhadap rupiah melemah, maka nilai tukar rupiah otomatis mengalami tekanan.
“Kalau kita melihat nilai tukar, itu harus dilihat dari sisi demand dan supply. Permintaan dolar meningkat karena adanya capital outflow dan ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi maupun geopolitik dunia,” ujar Wildan.
“Kita jangan terlalu terpengaruh berita negatif karena itu bisa membentuk ekspektasi buruk terhadap ekonomi,” ujarnya.
Wildan menyoroti pentingnya ekspektasi masyarakat dan investor terhadap kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, persepsi pasar memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Ketika masyarakat merasa kondisi ekonomi sedang tidak baik atau penuh ketidakpastian, maka permintaan terhadap dolar akan meningkat karena dianggap lebih aman untuk menyimpan nilai aset.
“Ekspektasi masyarakat itu sangat menentukan. Ketika orang merasa dolar lebih aman, maka permintaan dolar meningkat dan rupiah semakin tertekan,” katanya.
Ia menilai kepanikan masyarakat justru dapat memperburuk situasi ekonomi karena masyarakat cenderung menahan konsumsi, mengurangi investasi, dan membeli dolar secara berlebihan.
Wildan menjelaskan bahwa nilai tukar mata uang pada dasarnya dipengaruhi oleh mekanisme permintaan dan penawaran atau demand and supply. Ketika permintaan terhadap dolar Amerika meningkat, sementara permintaan terhadap rupiah melemah, maka nilai tukar rupiah otomatis mengalami tekanan.
“Kalau kita melihat nilai tukar, itu harus dilihat dari sisi demand dan supply. Permintaan dolar meningkat karena adanya capital outflow dan ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi maupun geopolitik dunia,” ujar Wildan.