Memahami Konsep Makrifat dan Kritik Cinta Egois Perspektif Sufi
Miftah yusufpati
Kamis, 21 Mei 2026 - 16:56 WIB
Melalui laporan dunia makrifat ini, kita disadarkan bahwa sifat dasar pengetahuan ilahiah bukanlah dogma yang menjauhkan manusia dari realitas. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Dalam riuh rendah dunia modern yang mendewakan data dan angka, ada ruang sunyi yang luput dari radar metodologi ilmiah konvensional. Ruang itu adalah wilayah makrifat, sebuah dimensi pengetahuan ilahiah yang tidak bisa diukur dengan mikroskop atau timbangan laboratorium.
Bagi para pencari spiritual, pengetahuan ini laksana samudra tanpa tepi, yang hakikatnya hanya bisa dipahami secara utuh oleh mereka yang telah menyelaminya secara langsung. Di sinilah letak keunikan sekaligus kerumitan sifat dasar pengetahuan ilahiah: ia menuntut pengalaman rasa, bukan sekadar ketajaman rasio.
Dimensi berlapis dalam kognisi manusia ini dibedah secara apik oleh Idries Shah dalam bukunya yang monumental, Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat. Dalam edisi Indonesia yang diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha, terbitan Risalah Gusti, Shah memaparkan tesis tentang keterbatasan persepsi manusia.
Pengetahuan ilahiah memiliki sifat yang hierarkis dan eksklusif dalam hal pencapaian spiritual, sehingga tidak bisa dinilai secara serampangan dari luar.
Shah menganalogikannya dengan sangat tangkas melalui fase pertumbuhan manusia. Seorang anak kecil tidak akan pernah memiliki gambaran yang utuh tentang beban dan pencapaian emosional orang dewasa.
Pada tingkat berikutnya, orang dewasa awam tidak dapat meraba kedalaman berpikir orang yang terpelajar. Mengikuti hukum kausalitas yang sama, kaum terpelajar yang hanya mengandalkan logika formal belum tentu mampu memahami pengalaman pencerahan rohani yang dialami oleh para nabi, orang-orang suci, atau kaum sufi. Ada lompatan kesadaran yang tidak bisa dijembatani hanya dengan membaca tumpukan buku.
Sifat dasar pengetahuan ini juga merombak total definisi kita tentang cinta dan ketertarikan diri. Kaum sufi melihat bahwa sebagian besar manusia terjebak dalam ilusi emosional. Jika seseorang mencintai sesamanya karena alasan kesenangan yang diperoleh, itu bukanlah cinta sejati.
Bagi para pencari spiritual, pengetahuan ini laksana samudra tanpa tepi, yang hakikatnya hanya bisa dipahami secara utuh oleh mereka yang telah menyelaminya secara langsung. Di sinilah letak keunikan sekaligus kerumitan sifat dasar pengetahuan ilahiah: ia menuntut pengalaman rasa, bukan sekadar ketajaman rasio.
Dimensi berlapis dalam kognisi manusia ini dibedah secara apik oleh Idries Shah dalam bukunya yang monumental, Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat. Dalam edisi Indonesia yang diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha, terbitan Risalah Gusti, Shah memaparkan tesis tentang keterbatasan persepsi manusia.
Pengetahuan ilahiah memiliki sifat yang hierarkis dan eksklusif dalam hal pencapaian spiritual, sehingga tidak bisa dinilai secara serampangan dari luar.
Shah menganalogikannya dengan sangat tangkas melalui fase pertumbuhan manusia. Seorang anak kecil tidak akan pernah memiliki gambaran yang utuh tentang beban dan pencapaian emosional orang dewasa.
Pada tingkat berikutnya, orang dewasa awam tidak dapat meraba kedalaman berpikir orang yang terpelajar. Mengikuti hukum kausalitas yang sama, kaum terpelajar yang hanya mengandalkan logika formal belum tentu mampu memahami pengalaman pencerahan rohani yang dialami oleh para nabi, orang-orang suci, atau kaum sufi. Ada lompatan kesadaran yang tidak bisa dijembatani hanya dengan membaca tumpukan buku.
Sifat dasar pengetahuan ini juga merombak total definisi kita tentang cinta dan ketertarikan diri. Kaum sufi melihat bahwa sebagian besar manusia terjebak dalam ilusi emosional. Jika seseorang mencintai sesamanya karena alasan kesenangan yang diperoleh, itu bukanlah cinta sejati.