home masjid

Sejarah Haji Purwa: Kosmopolitanisme Pangeran Galuh dan Rute Transnasional Kesultanan Delhi

Jum'at, 22 Mei 2026 - 17:41 WIB
Kisah perjalanan Bratalegawa alias Haji Purwa memberikan perspektif historis bahwa ibadah haji di masa awal Nusantara bukanlah sekadar perjalanan spiritual yang terisolasi. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Lembaran daun lontar kuno Tjarita Parahiyangan yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta memuat baris-baris narasi yang melampaui zamannya. Di antara kisah peperangan, suksesi takhta, dan spiritualitas Hindu-Buddha yang mendominasi Kerajaan Galuh abad ke-14, terselip satu nama yang mendobrak kemapanan tradisi istana: Bratalegawa.

Ia adalah putra kedua dari Penguasa Galuh, Prabu Pangandipara Marta Jayadewatabrata, yang juga dikenal dengan nama Sang Hyang Bunisora Suradipati (1357-1371). Namun, alih-alih duduk nyaman di pusat kekuasaan di Kawali, sang pangeran memilih takdir yang jauh lebih berisiko: menjadi pengelana dan saudagar maritim.

Jiwa petualang inilah yang kemudian mengantarkan Bratalegawa memahat sejarah sebagai manusia pertama dari Nusantara yang tercatat menunaikan ibadah haji.

Dalam buku Sejarah Ibadah Haji Indonesia dari Masa ke Masa (2023) yang diterbitkan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia, figur Bratalegawa merupakan titik tolak penting perpindahan sejarah haji Nusantara dari fase lisan menuju fase dokumentasi tekstual.

Sebelum abad ke-14, kehadiran jemaah haji asal kepulauan ini hanya menjadi bayang-bayang dalam cerita rakyat. Lewat naskah kuno seperti Tjarita Parahiyangan dan Carita Purwaka Caruban Nagari, eksistensi sosiologis jemaah haji generasi awal mendapatkan pembenaran historisnya yang kukuh.

Langkah Bratalegawa menuju tanah suci dimulai dari persinggahannya di Kesultanan Delhi, India. Sebagai seorang pedagang antar-bangsa, ia berinteraksi secara intensif dengan para saudagar Arab yang menguasai simpul-simpul perdagangan di Samudra Hindia.

Di kota metropolitan Islam abad pertengahan itulah, ia mengalami titik balik spiritual. Bratalegawa mengucapkan dua kalimat syahadat, memeluk Islam, dan dengan cepat bertransformasi menjadi seorang Muslim yang taat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya