Risiko Kematian dan Tingginya Biaya Pelayaran Haji Nusantara Abad Ke-17
Miftah yusufpati
Ahad, 24 Mei 2026 - 03:45 WIB
Kesengsaraan yang dialami oleh jemaah kelas bawah ini jauh lebih berlipat ganda dibandingkan rombongan utusan raja. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Riuh rendah pemberangkatan jemaah haji zaman modern kerap diwarnai keluhan soal keterlambatan jadwal terbang pesawat atau kualitas makanan di hotel pemondokan. Namun, jika mesin waktu ditarik mundur sejauh tiga atau empat abad ke belakang, segala fasilitas mutakhir tersebut runtuh menjadi sebuah lanskap petualangan maritim yang mengerikan dan bertaruh nyawa.
Pada masa ketika teknologi kedirgantaraan belum terbayangkan, keberangkatan seorang Muslim dari kepulauan Nusantara menuju tanah suci Mekah adalah sebuah perjalanan tanpa jaminan kembali.
Di bawah kepulan layar kain dan derit kayu lambung kapal, rukun Islam kelima ini ditunaikan dengan kesadaran penuh bahwa kematian bisa datang kapan saja di tengah samudra yang luas.
Catatan sejarah menunjukkan betapa beratnya beban fisik, mental, dan finansial yang harus dipikul oleh para pencari rida Allah pada masa itu.
Berdasarkan buku Sejarah Ibadah Haji Indonesia dari Masa ke Masa (2023) yang diterbitkan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia, prosesi pelepasan calon jemaah haji pada abad ke-17 hingga ke-19 selalu dilingkupi oleh derai air mata dan suasana duka yang mendalam dari keluarga yang ditinggalkan.
Isak tangis itu bukanlah ekspresi haru biasa, melainkan sebuah bentuk keikhlasan sosiologis karena ada kemungkinan besar bahwa pertemuan di dermaga pelabuhan tersebut adalah pertemuan terakhir kali di dunia fana.
Risiko karam dihantam badai topis, kelaparan karena kehabisan bekal, hingga serangan wabah penyakit menular di dalam palka kapal yang pengap menjadi hantu yang nyata sepanjang pelayaran.
Pada masa ketika teknologi kedirgantaraan belum terbayangkan, keberangkatan seorang Muslim dari kepulauan Nusantara menuju tanah suci Mekah adalah sebuah perjalanan tanpa jaminan kembali.
Di bawah kepulan layar kain dan derit kayu lambung kapal, rukun Islam kelima ini ditunaikan dengan kesadaran penuh bahwa kematian bisa datang kapan saja di tengah samudra yang luas.
Catatan sejarah menunjukkan betapa beratnya beban fisik, mental, dan finansial yang harus dipikul oleh para pencari rida Allah pada masa itu.
Berdasarkan buku Sejarah Ibadah Haji Indonesia dari Masa ke Masa (2023) yang diterbitkan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia, prosesi pelepasan calon jemaah haji pada abad ke-17 hingga ke-19 selalu dilingkupi oleh derai air mata dan suasana duka yang mendalam dari keluarga yang ditinggalkan.
Isak tangis itu bukanlah ekspresi haru biasa, melainkan sebuah bentuk keikhlasan sosiologis karena ada kemungkinan besar bahwa pertemuan di dermaga pelabuhan tersebut adalah pertemuan terakhir kali di dunia fana.
Risiko karam dihantam badai topis, kelaparan karena kehabisan bekal, hingga serangan wabah penyakit menular di dalam palka kapal yang pengap menjadi hantu yang nyata sepanjang pelayaran.