Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 24 Mei 2026
home masjid detail berita

Manuskrip Klasik tentang Pasar Ukaz Sebagai Pusat Geopolitik Arab Pra-Islam

miftah yusufpati Ahad, 24 Mei 2026 - 05:00 WIB
Manuskrip Klasik tentang Pasar Ukaz Sebagai Pusat Geopolitik Arab Pra-Islam
Selain ekonomi dan hiburan, Pasar Ukaz adalah mahkamah agung bagi sastra Arab. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Beberapa tahun sebelum fajar kerasulan Nabi Muhammad menyingsing di Mekah, setiap kali hilal bulan Zulhijah menjelang, sebuah transformasi sosial yang kolosal terjadi di kawasan Hijaz. Orang-orang Arab dari berbagai penjuru Semenanjung yang gersang, seolah digerakkan oleh magnet raksasa, datang berbondong-bondong menuntun unta-unta mereka.

Tujuan mereka satu: hamparan padang pasir luas yang dikenal sebagai Pasar Ukaz. Di tempat ini, sebelum musim ziarah keagamaan tahunan dimulai, rutinitas gurun yang sepi berubah menjadi hiruk-pikuk peradaban yang penuh warna, intrik, dan gairah.

Pasar Ukaz pada masa itu merupakan representasi paling sempurna dari kehidupan Arab jahiliah. Penulis terkemuka Muhammad Husain Haekal dalam karya klasiknya yang berjudul Al-Faruq Umar, sebagaimana diterjemahkan oleh Ali Audah (2000), menggambarkan dengan liris bagaimana kabilah-kabilah Arab mendirikan tenda-tenda besar di tengah padang pasir.

Sebagian dari tenda tersebut difungsikan sebagai bursa komersial tempat barang-barang mewah dari penjuru dunia ditawarkan. Sejatinya, barang buatan penduduk Hijaz sendiri tidak banyak. Pasar ini justru menjadi titik temu bagi kafilah dagang Quraisy yang baru saja kembali dari perjalanan musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam.

Laki-laki dan perempuan berbaur di antara hamparan kain sutra dan wewangian. Para perempuan sibuk membalik-balik pakaian buatan Yaman atau Syam yang menjadi kesayangan mereka.

Narasi Haekal menangkap sisi manusiawi yang profan dari pasar ini: jika ada perempuan cantik yang sedang berbelanja, pemuda-pemuda Arab akan berkerumun di depan tenda, berpura-pura menawar barang dagangan demi bisa mencuri pandang dan menikmati kecantikan mereka, alih-alih peduli pada komoditas yang dibawa pulang.

Simfoni Anggur dan Desing Pedang

Ketika matahari terbenam di ufuk barat Ukaz, geliat pasar tidak lantas meredup. Tak jauh dari pusat bursa, tempat-tempat hiburan malam mulai mengepulkan asap dan aroma anggur. Tempat ini menjadi muara bagi para pemuda yang ingin melepaskan penat setelah seharian bertransaksi. Musik ditabuh, dan cawan-cawan minuman keras diedarkan hingga para pengunjung terhuyung-huyung dalam buaian mabuk.

Namun, di balik kesenangan yang tampak cair itu, bahaya laten selalu mengintai. Pertemuan antarkabilah yang membawa ego kesukuan masing-masing sering kali menjadi sumbu pendek yang mudah tersulut. Berawal dari pengaruh alkohol dan senggolan tak sengaja, atau tatapan mata yang dinilai merendahkan harga diri kabilah, pertengkaran kecil dengan mudah membesar.

Di tengah masyarakat yang belum mengenal hukum negara formal, perselisihan personal ini dengan cepat bertransformasi menjadi perang antarkabilah yang berdarah-darah, yang dendamnya bisa berlanjut hingga puluhan tahun.

Hal ini sejalan dengan apa yang digambarkan dalam Al-Quran Surah Al-Ma'idah ayat 91 mengenai dampak destruktif dari khamar dan judi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Ukaz: Innama yuridu-syaitanu ay yuqi'a bainakumul-'adawata wal-baghda'a fil-khamri wal-maisiri wa yasuddakum 'an dzikrillah. Artinya: Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran meminum khamar dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah.

Mimbar Sastra dan Pemuda Bertubuh Kekar

Selain ekonomi dan hiburan, Pasar Ukaz adalah mahkamah agung bagi sastra Arab. Di salah satu sudut pasar, seorang penyair sering kali naik ke tempat tinggi, membacakan puisi dengan vokal yang menggelegar. Tradisi sastra saat itu memiliki struktur yang baku: dibuka dengan bait-bait cinta yang melankolis, lalu berpindah pada bait yang membanggakan kemuliaan diri dan kabilahnya, dan diakhiri dengan umpatan serta tantangan kepada kabilah saingan.

Kerumunan massa akan bersorak kegirangan dan bertepuk tangan saat bait cinta dibacakan. Namun, suasana bisa berubah mencekam dalam hitungan detik ketika penyair mulai menghina kabilah lain. Teriakan gembira seketika berubah menjadi makian sengit, dan tangan-tangan mulai meraba hulu pedang. Beruntung, dalam ingatan sejarah yang dicatat Haekal, sering kali ada orang tua yang bijak tampil menengahi dan mengajak damai sebelum darah benar-benar tumpah di atas pasir.

Di antara kerumunan penikmat sastra yang emosional itu, sejarah mencatat kehadiran seorang pemuda berusia di bawah dua puluh tahun. Fisiknya sangat mencolok: bertubuh kekar, besar, dan tingginya melebihi rata-rata orang yang hadir, dengan kulit putih kemerah-merahan yang agak kecoklatan karena sengatan matahari. Pemuda itu mengikuti pembacaan puisi dengan tekun, mengangguk-anggukan kepala tanda kekaguman atas keindahan estetika bahasa yang didengarnya.

Ia menikmati sastra dengan selera yang tinggi, namun ia memilih diam dan tidak ikut larut dalam histeria massa. Ketika orang lain saling berteriak membela kabilah, pemuda ini tetap tenang karena umpatan sang penyair tidak ada sangkut pautnya dengan keluarganya.

Pemuda bertubuh raksasa yang sedang mengasah kecerdasan linguistik dan kematangan emosionalnya di Pasar Ukaz itu adalah Umar bin Khattab, sosok yang di kemudian hari akan mengguncang dunia sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah Islam.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 24 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)