home masjid

Kisah Muadz bin Jabal Jadi Utusan ke Yaman: Misi Edukasi Fikih Kontemporer Abad ke-7

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:01 WIB
Muadz bin Jabal berhasil membangun fondasi kelembagaan Islam yang kuat di Yaman. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Fase akhir dari misi kenabian Muhammad ditandai dengan sebuah konsolidasi wilayah yang masif dan sistematis. Ketika getaran spiritual dan politik Islam mulai menyebar ke seluruh penjuru Jazirah Arab, kawasan selatan, khususnya Yaman, menjadi titik krusial yang membutuhkan perhatian khusus.

Setelah Islam tersiar di kawasan subur tersebut, kota Madinah tidak lagi mengirimkan pasukan militer, melainkan mengirimkan para pemikir dan ahli hukum. Di sinilah sejarah mencatat salah satu penugasan paling legendaris dalam hukum Islam: pengutusan Muadz bin Jabal ke Yaman.

Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, sebuah karya ilmiah tepercaya yang ditulis oleh sejarawan terkemuka Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, fragmen sejarah ini dibedah dengan sangat tajam.

Pengutusan Muadz bin Jabal bertujuan utama untuk memberikan pelajaran mendalam kepada penduduk setempat serta untuk memperdalam pemahaman hukum Islam yang baru tumbuh. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa konversi massal yang terjadi di wilayah selatan ditopang oleh pemahaman syariat yang matang, bukan sekadar kepatuhan politik sesaat.

Sebelum melepas keberangkatan sahabat muda yang terkenal dengan kecerdasan fikihnya tersebut, Nabi Muhammad memberikan sebuah instruksi operasional yang kelak menjadi asas fundamental dalam hukum dakwah Islam.

Rasulullah berpesan agar Muadz menerapkan metode yang inklusif dan tidak kaku, dengan kalimat yang terekam kuat dalam tradisi hadis sahih: Yassira wala tuassira, wa basysyira wala tunaffira. Pesan agung ini dikutip secara lengkap oleh Haekal:

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya