home lifestyle muslim

Ibadah Qurban membentuk manusia paripurna

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:18 WIB
Ibadah Qurban membentuk manusia paripurna
Oleh: Fathor Rohman, M.Ag (Pemerharti Fikih Sosial)

LANGIT7.ID-Di tengah pusaran modernitas yang bergerak begitu cepat, manusia sering kali terjebak dalam labirin kesibukan yang tiada habisnya. Kita berlari dari satu pencapaian materi ke pencapaian lainnya, memburu kedudukan, dan menumpuk harta benda seolah-olah dunia adalah perhentian abadi. Dalam dinamika hidup yang kompetitif dan individualistik ini, jiwa manusia perlahan-lahan menjadi lelah, gersang, dan terbelenggu oleh penyakit akut bernama ketamakan. Kita menjadi makhluk yang selalu merasa kurang, cemas akan masa depan, dan acuh terhadap sekeliling.

Pada titik krusial inilah, Islam hadir menawarkan sebuah momentum spiritual yang luar biasa. Ibadah qurban yang datang setiap bulan Dzulhijjah bukan sekadar ritual tahunan yang lewat begitu saja. Ia adalah undangan bagi setiap muslim untuk mengambil posisi duduk iftiras sebuah sikap duduk penuh takzim dan perenungan untuk mengevaluasi kembali perjalanan hidup kita. Allah Swt menginginkan kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk urusan duniawi, beristirahat dari pekatnya godaan materi, dan membungkam bisikan ego yang terus menuntut kepuasan tanpa batas. Jeda ini memaksa kita melihat kembali ke dalam diri, menyadari betapa lemahnya fisik manusia, dan menjawab sebuah pertanyaan apa yang sesungguhnya sedang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini?



Belajar dari Nabi Ibrahim


Akar filosofi dari qurban bermuara pada satu hal utama, yaitu ketakwaan yang murni. Takwa yang sejati tidak tumbuh dari sekadar ucapan di bibir, melainkan memancar dari kedalaman hati, mengakar dalam jiwa, dan terwujud nyata lewat amal saleh yang tulus. Model ini seringkali disebut dengan ketakwaan paripurna, sebuah keteladanan yang digambarkan dalam ksiah oleh Nabi Ibrahim AS. Beliau adalah sosok yang membuktikan bahwa cinta kepada Sang Pencipta harus berada di atas segala-galanya, bahkan di atas cinta kepada anak kandung yang telah dinantikannya selama puluhan tahun.

Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai potret kesabaran dan kepasrahan tingkat tinggi yang tidak ada tandingannya. Dalam Surah As-Shaffat ayat 102, Allah Swt berfirman:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya