Oleh: Fathor Rohman, M.Ag (Pemerharti Fikih Sosial)LANGIT7.ID-Di tengah pusaran modernitas yang bergerak begitu cepat, manusia sering kali terjebak dalam labirin kesibukan yang tiada habisnya. Kita berlari dari satu pencapaian materi ke pencapaian lainnya, memburu kedudukan, dan menumpuk harta benda seolah-olah dunia adalah perhentian abadi. Dalam dinamika hidup yang kompetitif dan individualistik ini, jiwa manusia perlahan-lahan menjadi lelah, gersang, dan terbelenggu oleh penyakit akut bernama ketamakan. Kita menjadi makhluk yang selalu merasa kurang, cemas akan masa depan, dan acuh terhadap sekeliling.
Pada titik krusial inilah, Islam hadir menawarkan sebuah momentum spiritual yang luar biasa. Ibadah qurban yang datang setiap bulan Dzulhijjah bukan sekadar ritual tahunan yang lewat begitu saja. Ia adalah undangan bagi setiap muslim untuk mengambil posisi duduk iftiras sebuah sikap duduk penuh takzim dan perenungan untuk mengevaluasi kembali perjalanan hidup kita. Allah Swt menginginkan kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk urusan duniawi, beristirahat dari pekatnya godaan materi, dan membungkam bisikan ego yang terus menuntut kepuasan tanpa batas. Jeda ini memaksa kita melihat kembali ke dalam diri, menyadari betapa lemahnya fisik manusia, dan menjawab sebuah pertanyaan apa yang sesungguhnya sedang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini?
Belajar dari Nabi IbrahimAkar filosofi dari qurban bermuara pada satu hal utama, yaitu ketakwaan yang murni. Takwa yang sejati tidak tumbuh dari sekadar ucapan di bibir, melainkan memancar dari kedalaman hati, mengakar dalam jiwa, dan terwujud nyata lewat amal saleh yang tulus. Model ini seringkali disebut dengan ketakwaan paripurna, sebuah keteladanan yang digambarkan dalam ksiah oleh Nabi Ibrahim AS. Beliau adalah sosok yang membuktikan bahwa cinta kepada Sang Pencipta harus berada di atas segala-galanya, bahkan di atas cinta kepada anak kandung yang telah dinantikannya selama puluhan tahun.
Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai potret kesabaran dan kepasrahan tingkat tinggi yang tidak ada tandingannya. Dalam Surah As-Shaffat ayat 102, Allah Swt berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
"Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.'"
Dialog antara ayah dan anak ini mencerminkan sebuah kepatuhan mutlak. Ketika Nabi Ismail telah mencapai usia remaja usia di mana seorang anak sedang lucu-lucunya dan mulai bisa membantu meringankan beban orang tua perintah yang sangat berat itu datang. Nabi Ibrahim tidak menghadapi perintah ini dengan kemarahan atau keraguan, melainkan dengan komunikasi yang santun kepada anaknya. Dan respons Nabi Ismail pun sangat mengagumkan; tidak ada penolakan, tidak ada ketakutan, melainkan sebuah kepasrahan total karena ia tahu bahwa perintah itu datang dari Allah Swt.
Melalui hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah, sahabat Zaid bin Arqam mengisahkan dialog antara para sahabat dengan Rasulullah SAW mengenai hakikat qurban ini. Ketika mereka bertanya tentang apa sebenarnya qurban itu, Rasulullah menjawab bahwa qurban adalah sunnah atau tradisi yang diwariskan oleh bapak mereka, Nabi Ibrahim AS. Lebih lanjut, Rasulullah SAW memberikan gambaran tentang betapa besarnya ganjaran kebaikan yang melekat pada ibadah ini: setiap helai rambut atau bulu dari hewan yang disembelih bernilai satu kebaikan di sisi Allah. Penjelasan ini bukan sekadar hitung-hitungan pahala secara matematis, melainkan sebuah penegasan bahwa setiap pengorbanan sekecil apa pun yang didasari keikhlasan akan diapresiasi secara luar biasa oleh Allah Swt.
Melampaui Seremonial FisikSatu hal yang harus disadari secara mendalam oleh umat Islam adalah bahwa setiap ibadah dalam Islam tidak pernah dirancang untuk berhenti pada tataran formalitas ritual semata. Ibadah dalam Islam selalu memiliki dimensi lahiriah dan batiniah, ada aspek syariat dan ada aspek hakikat. Begitu pula dengan ibadah qurban. Qurban memiliki capaian filosofis dan substansial yang melesat jauh melampaui dimensi fisik dari hewan yang disembelih.
Oleh karena itu, sangat naif jika kita mereduksi ibadah yang agung ini hanya sebatas pada urusan teknis: membeli hewan, menyembelihnya di halaman masjid, memotong-motong dagingnya, lalu mendistribusikannya kepada masyarakat untuk kemudian dimakan bersama dalam suasana pesta pora. Jika qurban dipahami dan dilaksanakan hanya sampai pada batas seremonial dan rutinitas tahunan seperti itu, maka ibadah ini akan kehilangan ruh dan daya hidupnya. Ia hanya akan menjadi festival keagamaan yang kering dari makna, gagal menjadi instrumen transformasi spiritual dan sosial yang dikehendaki oleh syariat agama Islam.
Penyembelihan hewan qurban pada hakikatnya adalah sebuah simbolisasi yang merepresentasikan sifat-sifat kebinatangan yang sering kali bersemayam di dalam dada manusia: egoisme yang tinggi, keserakahan yang tidak pernah puas, sifat rakus, serta kecintaan yang berlebihan terhadap materi duniawi. Ketika pisau qurban digoreskan pada leher hewan, di saat yang sama seorang hamba seharusnya sedang menyembelih ego kemanusiaannya sendiri. Kita diajak untuk menundukkan sifat kikir dan keakuan kita di bawah otoritas ketaatan kepada Allah, meniru bagaimana kepasrahan mutlak yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di atas altar pengorbanan.
Hari Raya Idul Adha dengan demikian bertransformasi menjadi sebuah peringatan tentang puncak kesabaran tertinggi umat manusia. Melalui momentum ini, kita diminta untuk meruntuhkan "berhala-berhala kecil" yang tanpa sadar sering kita pertuhankan di dalam hati kita. Berhala itu bernama ketamakan akan harta, kesombongan akan status sosial, dan keangkuhan diri. Allah Swt secara tegas mengingatkan dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin."
Ayat ini mengonfirmasi bahwa Allah sama sekali tidak butuh pada daging atau darah hewan. Yang melesat menembus langit dan diterima di hadapan rida Allah adalah ketulusan niat, kesucian hati, dan tingkat ketakwaan yang menggerakkan seseorang untuk berkurban. Ibadah kurban adalah sebuah "terapi" spiritual yang sengaja didesain untuk menguji sejauh mana seorang hamba mampu melepaskan keterikatan hatinya pada harta benda yang ia cintai demi membuktikan ketaatan mutlaknya kepada Sang Pencipta.
Membentuk Karakter Manusia MerdekaMelalui ibadah kurban, umat Islam diajak untuk melakukan perlawanan terhadap materialisme yang mendewakan harta benda. Setiap helai rambut dari hewan yang dikorbankan membawa pesan simbolis yang sangat mendalam tentang kerelaan untuk melepaskan. Sifat kikir, keakuan yang dominan, dan ketakutan akan kekurangan harta adalah penyakit-penyakit mental yang perlahan-lahan dihancurkan melalui syariat ibadah ini.
Ketika hati seorang manusia telah berhasil dibersihkan dari cengkeraman keserakahan dan ketamakan duniawi, maka pancaran kesucian jiwa itu secara alamiah akan mengalir dan mewarnai seluruh perilaku moral serta akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Manusia yang telah merdeka dari ketamakan adalah manusia yang jiwanya telah bebas dari belenggu materi. Ia tidak lagi melihat sesama manusia sebagai saingan atau kompetitor yang harus disingkirkan dengan segala cara demi memuaskan ambisinya sendiri. Sebaliknya, ia akan memandang orang lain sebagai saudara yang harus dirangkul, dibantu, dan dimuliakan.
Transformasi spiritual ini pada akhirnya akan membentuk karakter manusia yang memiliki integritas tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Kebersihan hati yang diperoleh dari "Ibadah qurban" ini akan terwujud dalam sikap yang jujur, adil, amanah, serta menjauhi segala bentuk tindakan yang eksploitatif maupun koruptif. Seseorang yang telah berhasil menyembelih sifat tamak dalam dirinya tidak akan tergiur untuk mengambil hak orang lain, karena ia tahu bahwa dunia ini hanyalah sarana temporer untuk menggapai rida-Nya.
Tolok ukur yang sesungguhnya dari ibadah qurban terletak pada dampak nyata dan perubahan perilaku yang terjadi pada diri pelakunya pasca-ritual ibadah tersebut selesai dilaksanakan. Ibadah qurban yang paripurna, yang diterima di sisi Allah Swt, adalah ibadah yang mampu menggetarkan dan menggerakkan jiwa pelakunya untuk bertransformasi menjadi pribadi yang jauh lebih peka terhadap ketimpangan sosial di sekitarnya.
(Pemerhati fiqih sosial)(lam)