home masjid

Kisah Rencana Serangan Skala Besar ke Perbatasan Bizantium di Palestina Tahun 11 Hijriah

Kamis, 28 Mei 2026 - 05:00 WIB
Pasukan Usamah mulai bergerak keluar dari pusat kota Madinah dan mendirikan markas konsolidasi sementara di wilayah Jurf. Ilustrasi: Gemini AI
LANGIT7.ID- Lanskap politik di Jazirah Arab mengalami perubahan drastis setelah pelaksanaan Haji Perpisahan pada akhir tahun kesepuluh Hijriah. Keberhasilan unifikasi sosiologis yang terjadi di Makkah melahirkan stabilitas baru yang belum pernah tercipta sebelumnya di kawasan tersebut. Berdasarkan catatan sejarah, wilayah bagian selatan, khususnya Yaman dan Hadramaut, sudah berada dalam kondisi yang sangat aman dan berada penuh di bawah kendali administratif pemerintahan Madinah. Fakta lapangan ini membuat perhatian strategis dan pemikiran Nabi Muhammad bergeser secara total ke arah perbatasan bagian utara.

Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, sebuah karya ilmiah tepercaya yang ditulis oleh sejarawan terkemuka Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, dijelaskan bahwa fokus Nabi ke wilayah utara didasarkan pada kalkulasi militer yang matang terhadap pergerakan Kekaisaran Rumawi Timur atau Bizantium.

Sejak terjadinya Ekspedisi Mutah pada tahun kedelapan Hijriah, di mana pasukan Muslim yang berjumlah relatif kecil harus berhadapan dengan kekuatan raksasa sekutu Bizantium, Nabi Muhammad telah memperhitungkan dinamika di perbatasan Syam dengan sangat cermat. Meskipun dalam pertempuran Mutah tersebut pasukan Muslim memutuskan mundur, kepiawaian Khalid bin Walid dalam menarik mundur pasukan tanpa mengalami kehancuran total telah memberikan kepercayaan diri yang besar bagi militer Madinah.

Nabi Muhammad memandang bahwa kedudukan pasukan Muslim di sepanjang garis perbatasan Syam (Suriah) dan Palestina perlu diperkuat secara permanen. Langkah preventif ini diambil guna mencegah kabilah-kabilah Arab sekutu Bizantium di bawah lindungan Kristen, yang dulu pernah keluar dari jazirah menuju Palestina, untuk kembali melakukan provokasi perang atau menghasut penduduk lokal.

Potensi ancaman dari kelompok-kelompok yang merasa kehilangan hak istimewa pasca-kebijakan relokasi komunitas tertentu, seperti pemindahan kelompok dari Najran keluar dari Semenanjung Arab, dinilai dapat memicu perang balas dendam. Atas dasar itulah, Nabi Muhammad merancang sebuah operasi militer preventif berskala masif, meniru pola mobilisasi udara dan darat yang pernah beliau pimpin sendiri saat menuju Tabuk beberapa tahun sebelumnya. Pada ekspedisi Tabuk terdahulu, gertakan militer Madinah berhasil membuat pasukan Bizantium menarik diri masuk ke dalam benteng-benteng pertahanan internal mereka.

Restrukturisasi Komando dan Kontroversi Usamah

Guna merealisasikan target geopolitik di sektor utara tersebut, belum lama setelah kaum Muslimin kembali menetap di Madinah, Nabi Muhammad mengeluarkan dekret tertinggi untuk menyiagakan sebuah angkatan perang dalam jumlah besar ke daerah Syam. Perintah mobilisasi umum ini bersifat mengikat bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk para tokoh senior dari golongan Muhajirin yang pertama-tama memeluk Islam, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Namun, kejutan besar terjadi ketika Nabi menetapkan struktur komando tertinggi pasukan ini. Beliau menunjuk Usamah bin Zaid bin Harithah sebagai panglima tertinggi operasi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya