home masjid

Kesaksian Abu Muwaihibah Ungkap Kunjungan Tengah Malam Nabi Muhammad ke Pekuburan Baqi

Jum'at, 29 Mei 2026 - 06:06 WIB
Pemakaman Baqi yang dulu dikunjungin Nabi Muhammad menjelang wafatnya. Kini pemakanan ini diperuntukan bagi jamaah haji yang wafat di Madinah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Atmosfer Kota Madinah pada permulaan tahun 11 Hijriah diselimuti oleh ketegangan laten yang tidak biasa. Musim panas yang menyengat, disertai hembusan angin malam yang kering di sekitar wilayah oase Hijaz, menjadi latar belakang dari sebuah peristiwa yang kelak mempertebal kecemasan kolektif kaum Muslimin.

Pada malam pertama sebelum tanda-tanda klinis penyakitnya muncul secara masif, Nabi Muhammad mengalami gangguan tidur yang hebat. Beliau terjaga dalam waktu yang lama, dihantari oleh pergulatan batiniah yang mendalam mengenai masa depan komunitas politik dan keagamaan yang baru saja beliau satukan.

Dalam kegelapan malam musim panas tersebut, Nabi Muhammad memutuskan untuk keluar dari kediamannya. Beliau ditemani oleh seorang pembantu setianya yang bernama Abu Muwaihibah. Destinasi yang dituju oleh Nabi pada waktu tidak lazim itu adalah Baqi al-Gharqad, sebuah kawasan pekuburan resmi bagi kaum Muslimin yang terletak di pinggiran Madinah. Kunjungan mendadak ini menjadi pembuka dari rangkaian peristiwa dramatis sebelum sang pengemban wahyu mengembuskan napas terakhirnya.

Merujuk pada dokumen historiografi yang tertuang dalam buku Sejarah Hidup Muhammad,karya Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, setibanya di area pemakaman yang sunyi itu, Nabi Muhammad melakukan komunikasi verbal yang ditujukan langsung kepada para penghuni kubur.

Kalimat yang diucapkan oleh Nabi bernuansa eskatologis sekaligus menjadi nubuat politik yang suram bagi masa depan geopolitik Arab: "Salam sejahtera bagimu, wahai penghuni kubur! Semoga kamu selamat akan apa yang terjadi atas dirimu, seperti atas diri orang lain. Fitnah telah datang seperti malam gelap-gulita, yang kemudian menyusul yang pertama, dan yang kemudian lebih jahat dari yang pertama."

Pernyataan Nabi mengenai datangnya fitnah yang berlapis-lapis laksana malam gelap gulita merupakan proyeksi teologis terhadap munculnya konflik sektarian (perang riddah) dan perpecahan politik yang akan melanda Madinah pasca-kematian beliau. Kuburan Baqi malam itu menjadi saksi dari kesadaran historis seorang pemimpin yang tahu bahwa fondasi sosial yang dibangunnya akan segera menghadapi ujian disintegrasi yang mahadahsyat.

Pilihan Eksistensial antara Dunia dan Pertemuan Ilahi
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya