LANGIT7.ID-Atmosfer Kota Madinah pada permulaan tahun 11 Hijriah diselimuti oleh ketegangan laten yang tidak biasa. Musim panas yang menyengat, disertai hembusan angin malam yang kering di sekitar wilayah oase Hijaz, menjadi latar belakang dari sebuah peristiwa yang kelak mempertebal kecemasan kolektif kaum Muslimin.
Pada malam pertama sebelum tanda-tanda klinis penyakitnya muncul secara masif, Nabi Muhammad mengalami gangguan tidur yang hebat. Beliau terjaga dalam waktu yang lama, dihantari oleh pergulatan batiniah yang mendalam mengenai masa depan komunitas politik dan keagamaan yang baru saja beliau satukan.
Dalam kegelapan malam musim panas tersebut, Nabi Muhammad memutuskan untuk keluar dari kediamannya. Beliau ditemani oleh seorang pembantu setianya yang bernama Abu Muwaihibah. Destinasi yang dituju oleh Nabi pada waktu tidak lazim itu adalah Baqi al-Gharqad, sebuah kawasan pekuburan resmi bagi kaum Muslimin yang terletak di pinggiran Madinah. Kunjungan mendadak ini menjadi pembuka dari rangkaian peristiwa dramatis sebelum sang pengemban wahyu mengembuskan napas terakhirnya.
Merujuk pada dokumen historiografi yang tertuang dalam buku
Sejarah Hidup Muhammad, karya Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, setibanya di area pemakaman yang sunyi itu, Nabi Muhammad melakukan komunikasi verbal yang ditujukan langsung kepada para penghuni kubur.
Kalimat yang diucapkan oleh Nabi bernuansa eskatologis sekaligus menjadi nubuat politik yang suram bagi masa depan geopolitik Arab: "Salam sejahtera bagimu, wahai penghuni kubur! Semoga kamu selamat akan apa yang terjadi atas dirimu, seperti atas diri orang lain. Fitnah telah datang seperti malam gelap-gulita, yang kemudian menyusul yang pertama, dan yang kemudian lebih jahat dari yang pertama."
Pernyataan Nabi mengenai datangnya fitnah yang berlapis-lapis laksana malam gelap gulita merupakan proyeksi teologis terhadap munculnya konflik sektarian (perang riddah) dan perpecahan politik yang akan melanda Madinah pasca-kematian beliau. Kuburan Baqi malam itu menjadi saksi dari kesadaran historis seorang pemimpin yang tahu bahwa fondasi sosial yang dibangunnya akan segera menghadapi ujian disintegrasi yang mahadahsyat.
Pilihan Eksistensial antara Dunia dan Pertemuan IlahiAbu Muwaihibah, dalam kapasitasnya sebagai saksi mata tunggal dari peristiwa malam itu, memberikan kesaksian verbal yang sangat spesifik mengenai motif kunjungan tersebut. Sebelum mereka memasuki area pemakaman, Nabi Muhammad menoleh kepadanya dan berkata bahwa beliau mendapatkan perintah langsung dari Allah untuk memintakan ampunan bagi para penghuni Baqi. Oleh karena itu, Nabi meminta Abu Muwaihibah untuk mendampinginya melakukan ritual teologis tersebut.
Namun, bagian paling krusial dan emosional dari kesaksian Abu Muwaihibah terjadi ketika prosesi ziarah selesai dan keduanya bersiap untuk melangkah kembali pulang. Nabi Muhammad menghampiri Abu Muwaihibah lalu menyampaikan sebuah rahasia eksistensial yang melibatkan pilihan hidup dan mati. Nabi bersabda: "Abu Muwaihibah, aku telah diberi anak kunci isi dunia ini serta kekekalan hidup di dalamnya, sesudah itu surga. Aku disuruh memilih ini atau bertemu dengan Allah dan surga."
Mendengar tawaran kosmis yang luar biasa tersebut, Abu Muwaihibah meresponsnya dengan luapan emosional yang tinggi, sebuah reaksi yang jamak terjadi pada seorang pengikut yang enggan kehilangan pemimpin karismatiknya. Ia berseru: "Demi ayah bundaku! Ambil sajalah kunci isi dunia ini dan hidup kekal di dalamnya, kemudian surga."
Abu Muwaihibah secara pragmatis menginginkan agar Nabi Muhammad tetap hidup secara biologis guna memimpin negara Madinah dari segala ancaman luar. Namun, jawaban Nabi Muhammad justru mematikan harapan tersebut. Beliau menegaskan dengan penuh ketenangan: "Tidak, Abu Muwaihibah. Aku memilih kembali menghadap Allah dan surga."
Kesaksian yang disebarkan oleh Abu Muwaihibah mengenai dialog di Baqi ini segera memicu gelombang kecemasan yang makin meluas di kalangan penduduk Madinah. Keesokan harinya setelah kunjungan malam itu, Nabi Muhammad mulai menderita sakit demam yang keras. Korelasi langsung antara kunjungan ke pemakaman dengan penurunan drastis kondisi fisik Nabi membuat publik Madinah menarik kesimpulan bahwa saat perpindahan otoritas profetik dari dunia menuju keabadian sudah tidak dapat ditawar lagi.
Dekonstruksi Sejarah: Antara Sakit dan Friksi MiliterMeskipun kesaksian Abu Muwaihibah ini sangat populer dalam tradisi penulisan sirah nabawiyah klasik, Haekal mencatat adanya perdebatan dan keraguan epistemologis di kalangan sejarawan modern. Sebagian ahli sejarah menerima hadis yang dibawa oleh Abu Muwaihibah ini dengan sikap sangsi (skeptis). Mereka mengajukan tesis alternatif bahwa pembatalan atau penundaan pergerakan pasukan militer di bawah komando Usamah bin Zaid menuju Palestina bukan disebabkan semata-mata oleh faktor kesehatan Nabi Muhammad yang memburuk pasca-kunjungan ke Baqi.
Ada faktor sosiologi militer yang dinilai lebih dominan memicu kemandekan pasukan di Jurf. Faktor tersebut adalah adanya ketidakpuasan meluas atau gerutuan di kalangan internal perwira militer Madinah. Penunjukan Usamah bin Zaid, seorang remaja yang belum genap berusia dua puluh tahun, sebagai panglima tertinggi (
commander-in-chief) dinilai melompati senioritas para tokoh penting dari faksi Ansar dan Muhajirin gelombang pertama.
Struktur komando tradisional Arab yang sangat menghargai usia dan reputasi kesukuan mengalami benturan dengan keputusan meritokratis radikal yang diambil oleh Nabi. Para sejarawan kritis berpendapat bahwa keengganan para sahabat senior untuk tunduk pada komando seorang pemuda belia inilah yang secara politis lebih banyak menahan laju pasukan, daripada sekadar urusan sakitnya Nabi.
Namun, Haekal menolak untuk serta-merta menegasikan kebenaran kisah Abu Muwaihibah. Ia berargumen bahwa tidak ada alasan ilmiah yang kuat untuk menolak dasar kejadian tersebut, termasuk kepergian Nabi ke Baqi al-Gharqad untuk memintakan ampunan bagi para sahabat yang telah mendahuluinya. Bagi Haekal, perasaan yang kuat (premonisi) akan dekatnya ajal bukan sebuah fenomena magis yang mustahil, melainkan sebuah gejala psikis yang valid dan banyak ditemukan dalam catatan empiris kemanusiaan.
Sains Modern dan Dimensi Spiritual TranspersonalDalam perspektif ilmu pengetahuan masa kini, fenomena firasat kematian atau ketajaman intonasi spiritual menjelang ajal tidak lagi dikategorikan sebagai takhayul. Ilmu psikologi transpersonal dan studi mengenai kesadaran (
consciousness studies) mengakui adanya gejala psikis di mana seorang individu dapat menangkap sinyal biologis dan eksistensial mengenai akhir dari masa kehidupannya.
Hubungan rohani antara orang yang hidup dengan yang mati, serta pemahaman tentang kesatuan masa lalu dengan masa depan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, telah menjadi objek kajian ilmiah yang serius, meskipun instrumen manusia saat ini masih sangat terbatas untuk mengungkap mekanisme operasionalnya secara utuh.
Apabila fenomena transpersonal ini dapat dialami dan dibuktikan secara ilmiah pada manusia biasa, maka bagi sosok seperti Nabi Muhammad, kapasitas komunikasi spiritual tersebut tentu berlipat ganda. Nabi Muhammad memiliki tingkat sensitivitas rohani yang berada di atas rata-rata manusia, yang memungkinkan beliau menangkap dinamika kosmis dan struktur makro alam semesta dengan sangat presisi. Oleh karena itu, narasi Abu Muwaihibah mengenai pilihan Nabi untuk menolak kekekalan duniawi demi bertemu dengan Tuhan adalah refleksi logis dari seorang teolog puncak yang telah menyelesaikan misi historisnya di bumi.
Dalam sebuah kajian kontemporer yang disampaikan oleh sosiolog agama, Dr. Tariq Ramadan, melalui sebuah esai di platform akademik (2023), kunjungan Nabi ke Baqi pada malam menjelang sakitnya harus dibaca sebagai sebuah tindakan pamitan institusional (
institutional farewell).
Nabi Muhammad tidak sedang mencari kesembuhan, melainkan sedang melakukan rekonsiliasi sejarah dengan para syuhada yang telah meletakkan batu pertama peradaban Islam. Beliau menyatukan memori kolektif antara mereka yang gugur di medan perang terdahulu dengan mereka yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan di masa depan.
Dengan demikian, kesaksian Abu Muwaihibah, di luar perdebatan teknis mengenai detail kalimatnya, memberikan kontribusi penting dalam memahami psikologi transisi kekuasaan di Madinah. Peristiwa di Baqi menegaskan bahwa menjelang wafatnya, Nabi Muhammad secara sadar telah melepaskan keterikatan materialnya terhadap dunia. Beliau mempersiapkan mental umatnya untuk menghadapi fase baru: sebuah fase di mana Islam harus berjalan dan bertahan bukan lagi karena kehadiran fisik seorang nabi, melainkan karena kekuatan sistem hukum dan kematangan teologis yang ditinggalkannya.
(mif)