home wirausaha syariah

BAZNAS Dorong Zakat dan Wakaf Jadi Solusi Pembiayaan Iklim Global dari Indonesia

Jum'at, 29 Mei 2026 - 10:06 WIB
(Dok: Humas KBRI LBBP Singapura)
LANGIT7.ID-Jakarta; Ketua BAZNAS RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., siap mendorong instrumen keuangan sosial Islam seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebagai solusi inovatif pembiayaan iklim global.

Gagasan tersebut disampaikan dalam forum Philanthropy Asia Summit 2026 bertema "Asian Innovation, Global Good" yang diselenggarakan di Sands Expo dan Convention Centre, Singapura..

Menurutnya, langkah ini krusial karena masyarakat miskin menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak krisis lingkungan, sehingga BAZNAS berkomitmen mengintegrasikan pengentasan kemiskinan dengan aksi ketahanan iklim yang berkelanjutan.

"Di BAZNAS Indonesia, kami percaya bahwa pertanyaan hari ini bukan lagi apakah filantropi berbasis keagamaan dapat berkontribusi pada ketahanan iklim, melainkan bagaimana kita merancang tata kelola, kepatuhan Syariah, kemitraan institusional, dan dampak yang terukur untuk membuat kontribusi tersebut dapat diperluas skala pengembangannya dan berkelanjutan," jelas Sodik Mudjahid saat menjadi narasumber dalam acara tersebut, dikutip Jumat (29/5/2026).

Sodik mengapresiasi Asian Development Bank Institute atas inisiasi diskusi kemitraan global ini. Menurutnya, potensi besar keuangan Syariah di Indonesia harus dirancang matang agar kontribusinya dapat diperluas secara terukur. Isu perubahan iklim kini tidak bisa lagi dipisahkan dari upaya penanggulangan kemiskinan.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga hak-hak masyarakat yang paling membutuhkan bantuan di lapangan. Langkah ini dinilai penting agar inovasi pembiayaan hijau tetap berjalan di atas prinsip keadilan dan inklusivitas yang nyata.

"Meskipun demikian, sebuah prinsip penting harus ditekankan: zakat harus tetap berpusat pada mustahik. Aksi iklim yang dibiayai melalui zakat harus memberikan manfaat langsung kepada penerima zakat, terutama masyarakat miskin, yang merupakan kelompok pertama dan paling parah terkena dampak perubahan iklim," ujarnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya