Wafatnya Rasulullah SAW
Kisah Terjadinya Polarisasi Pendapat di Antara Sahabat Terkait Penulisan Wasiat Akhir
Miftah yusufpati
Ahad, 31 Mei 2026 - 05:39 WIB
Adanya ketegangan politik riil terkait masa depan suksesi kekuasaan di Madinah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Fase akhir kepemimpinan di Kota Madinah ditandai oleh ketegangan ruang domestik yang berdampak langsung pada stabilitas psikologis para elit politiknya. Ketika infeksi dan demam tinggi terus menggerogoti pertahanan fisik Nabi Muhammad, para sahabat terdekat berada dalam kondisi kepanikan massal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kehadiran figur Nabi bukan sekadar fungsi kepala negara sipil, melainkan poros tunggal yang memegang otoritas absolut atas hukum langit dan bumi bagi masyarakat Jazirah Arab yang baru saja bersatu.
Serangan penyakit yang melanda tubuh Nabi Muhammad memiliki intensitas klinis yang luar biasa. Suatu hari, para sahabat berkumpul di sekitar tempat tidurnya dengan maksud untuk memberikan penguatan moral. Mereka mencoba menghibur sang pemimpin dengan mengingatkan kembali rangkaian nasihat teologis yang pernah disampaikan oleh Nabi sendiri pada masa lalu, yaitu mengenai larangan bagi seorang muslim yang sedang menderita sakit untuk mengeluh atau meratapi nasibnya.
Namun, respons yang diberikan oleh Nabi Muhammad justru menegaskan beratnya beban biologis yang sedang beliau pikul secara personal. Beliau menjawab secara lugas bahwa apa yang sedang dialaminya dalam serangan penyakit kali ini memiliki tingkat keparahan lebih dari apa yang harus dipikul oleh dua orang manusia biasa sekaligus. Pernyataan ini menjadi indikator objektif bahwa kondisi kesehatan sang pemimpin sudah berada pada titik yang sangat kritis.
Di tengah situasi kamar yang dipadati oleh para tokoh penting tersebut, Nabi Muhammad tiba-tiba mengeluarkan sebuah instruksi administratif yang bersifat mendesak. Beliau berkata, "Bawakan dawat dan lembaran, akan ku minta tuliskan surat buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak lagi akan pernah sesat."
Perintah untuk mendokumentasikan sebuah teks formal di akhir hayat ini terekam secara autentik dalam literatur sejarah primer. Salah satu rujukan fundamental mengenai fragmen ini tertuang dalam buku Sejarah Hidup Muhammad. Buku teks ilmiah yang menjadi standar historiografi Islam ini ditulis oleh sejarawan terkemuka asal Mesir, Muhammad Husain Haekal, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya. Catatan Haekal memperlihatkan bagaimana sebuah instruksi tertulis dari seorang pemimpin yang sedang sakit keras justru memicu polarisasi pendapat yang tajam di antara para pengikutnya.
Interupsi Umar bin Khattab
Begitu instruksi untuk mengambil alat tulis dan lembaran kertas itu dikeluarkan oleh Nabi, ruang perawatan seketika berubah menjadi arena perdebatan hukum (legal debate) yang sengit. Dari sekian banyak orang yang hadir di dalam rumah, muncul sebuah interupsi yang mempertanyakan urgensi dari penulisan dokumen tersebut.
Serangan penyakit yang melanda tubuh Nabi Muhammad memiliki intensitas klinis yang luar biasa. Suatu hari, para sahabat berkumpul di sekitar tempat tidurnya dengan maksud untuk memberikan penguatan moral. Mereka mencoba menghibur sang pemimpin dengan mengingatkan kembali rangkaian nasihat teologis yang pernah disampaikan oleh Nabi sendiri pada masa lalu, yaitu mengenai larangan bagi seorang muslim yang sedang menderita sakit untuk mengeluh atau meratapi nasibnya.
Namun, respons yang diberikan oleh Nabi Muhammad justru menegaskan beratnya beban biologis yang sedang beliau pikul secara personal. Beliau menjawab secara lugas bahwa apa yang sedang dialaminya dalam serangan penyakit kali ini memiliki tingkat keparahan lebih dari apa yang harus dipikul oleh dua orang manusia biasa sekaligus. Pernyataan ini menjadi indikator objektif bahwa kondisi kesehatan sang pemimpin sudah berada pada titik yang sangat kritis.
Di tengah situasi kamar yang dipadati oleh para tokoh penting tersebut, Nabi Muhammad tiba-tiba mengeluarkan sebuah instruksi administratif yang bersifat mendesak. Beliau berkata, "Bawakan dawat dan lembaran, akan ku minta tuliskan surat buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak lagi akan pernah sesat."
Perintah untuk mendokumentasikan sebuah teks formal di akhir hayat ini terekam secara autentik dalam literatur sejarah primer. Salah satu rujukan fundamental mengenai fragmen ini tertuang dalam buku Sejarah Hidup Muhammad. Buku teks ilmiah yang menjadi standar historiografi Islam ini ditulis oleh sejarawan terkemuka asal Mesir, Muhammad Husain Haekal, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya. Catatan Haekal memperlihatkan bagaimana sebuah instruksi tertulis dari seorang pemimpin yang sedang sakit keras justru memicu polarisasi pendapat yang tajam di antara para pengikutnya.
Interupsi Umar bin Khattab
Begitu instruksi untuk mengambil alat tulis dan lembaran kertas itu dikeluarkan oleh Nabi, ruang perawatan seketika berubah menjadi arena perdebatan hukum (legal debate) yang sengit. Dari sekian banyak orang yang hadir di dalam rumah, muncul sebuah interupsi yang mempertanyakan urgensi dari penulisan dokumen tersebut.