home masjid

Wafatnya Rasulullah SAW

Wafatnya Nabi Muhammad Memicu Guncangan Psikologis Massal dan Penolakan Publik oleh Umar bin Khattab

Senin, 01 Juni 2026 - 05:00 WIB
Langkah Abu Bakar membacakan Surah Ali Imran Ayat 144 secara instan memaksa masyarakat Madinah untuk melakukan transisi kesadaran. Ilustrasi: Gemini AI
LANGIT7.ID-Puncak krisis psikologis terbesar dalam sejarah awal Daulah Islamiyah terjadi pada paruh kedua hari Senin, 8 Juni 632 Masehi. Kota Madinah yang beberapa jam sebelumnya diliputi optimisme pasca-kehadiran Nabi Muhammad dalam salat subuh berjamaah, seketika dihantam badai informasi yang meremukkan kesadaran kolektif. Kabar mengenai wafatnya pimpinan tertinggi negara di atas pangkuan Aisyah binti Abu Bakar merambat cepat, meruntuhkan seluruh asumsi medis yang sempat dibangun oleh para sahabat senior.

Respons pertama yang muncul dari episentrum domestik adalah jeritan duka yang histeris. Aisyah, didampingi oleh barisan wanita dari keluarga inti nabi (Ahlul Bait), melakukan aksi kultural berupa pemukulan wajah sebagai manifestasi hilangnya figur pelindung utama komunitas. Gema ratapan dari dalam rumah perawatan tersebut langsung menembus dinding Masjid Nabawi, memicu kepanikan massal di kalangan jemaah yang sedang berkumpul di area utama.

Dalam situasi chaos psikologis tersebut, Umar bin Khattab mengambil langkah konfrontatif yang ekstrem. Umar, yang dikenal memiliki ketegasan sosiopolitik yang radikal, menolak secara mutlak realitas empiris mengenai kematian biologis sang nabi. Ia segera memasuki kamar perawatan, menerobos barisan pelayat, dan membuka kain penutup wajah jenazah Rasulullah.

Meskipun tanda-tanda klinis seperti berhentinya denyut nadi dan kekakuan otot sudah bermanifestasi secara nyata, konstruksi berpikir Umar menolak kesimpulan medis tersebut. Umar berasumsi bahwa pemimpinnya hanya sedang mengalami penurunan kesadaran sementara (pingsan atau sinkop) dan dipastikan akan siuman kembali dalam waktu dekat.

Mughirah bin Syubah, salah seorang sahabat yang hadir di lokasi, berusaha melakukan intervensi logis dengan memaparkan data kematian fisik yang objektif kepada Umar. Namun, upaya rasionalisasi tersebut justru memicu resistensi verbal yang keras. Umar menolak mentah-mentah pandangan Mughirah dan berteriak, "Engkau dusta!"

Anatomi Penolakan

Guna melegitimasi keyakinan personalnya di hadapan publik, Umar bin Khattab segera melangkah keluar menuju mimbar utama Masjid Nabawi. Di hadapan massa jemaah yang sedang diliputi kebingungan struktural, Umar menyampaikan sebuah pidato provokatif dengan volume suara yang menggelegar. Narasi yang dibangun oleh Umar merupakan bentuk pertahanan psikologis (psychological defense mechanism) guna menangkal kecemasan akan runtuhnya sistem kenegaraan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya