home masjid

Wafatnya Rasulullah SAW

Pemicu Polarisasi Politik Antara Kelompok Muhajirin dan Anshar di Madinah

Selasa, 02 Juni 2026 - 06:44 WIB
Reaksi Muhajirin dan Anshar di Saqifah menunjukkan bahwa Islam sejak awal tidak meninggalkan cetak biru (blueprint) monarki yang kaku. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Kesadaran kolektif masyarakat Madinah mengenai kematian biologis Nabi Muhammad segera diikuti oleh disintegrasi spasial para elit politiknya. Begitu khotbah demitologisasi yang disampaikan oleh Abu Bakar al-Siddiq selesai meredakan histeria massa di dalam Masjid Nabawi, stabilitas sosial tidak serta-merta pulih. Sebaliknya, ketakutan akan kekosongan kekuasaan (power vacuum) memicu fragmentasi kelompok yang bergerak secara simultan ke berbagai titik strategis kota. Komunitas Muslim yang semula menyatu di bawah komando tunggal kenabian, kini terpencar-pencar berdasarkan afiliasi primordial dan kesamaan visi politik.

Kelompok internal pertama yang melakukan mobilisasi adalah faksi Anshar, yang terdiri atas persekutuan suku Aus dan Khazraj. Mereka segera memisahkan diri dari kompleks utama masjid dan melakukan konsolidasi tertutup di Saqifah Bani Saidah, sebuah serambi pertemuan milik kabilah Banu Saidah.

Di lokasi tersebut, mereka menggabungkan diri dan menempatkan tokoh senior Khazraj, Saad bin Ubadah, sebagai figur sentral yang dipersiapkan untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan Madinah. Atas dasar hak historis sebagai penduduk asli yang menyediakan suaka politik bagi dakwah Islam, faksi Anshar merasa memiliki legitimasi tertinggi untuk mengelola pemerintahan pasca-wafatnya Nabi.

Di sudut lain, fragmentasi juga terjadi pada lingkaran keluarga inti Nabi (Ahlul Bait). Figur-figur strategis seperti Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah memilih untuk mengisolasi diri di dalam rumah Fatimah binti Muhammad. Mereka memfokuskan konsentrasi pada urusan pemulasaraan jenazah Rasulullah yang masih berada di dalam kamar perawatan. Pintu rumah tersebut ditutup rapat dari interaksi eksternal, mencerminkan pemisahan diri sementara dari hiruk-pikuk politik yang mulai merayap di luar dinding kediaman.

Sementara itu, sisa dari kelompok Muhajirin, termasuk tokoh penting dari kabilah Banu Abdul Ashhal seperti Usaid bin Hudhair, memilih untuk merapatkan barisan di sekitar Abu Bakar al-Siddiq. Dalam kondisi pembagian faksi yang kian menajam ini, sebuah transmisi informasi intelijen darurat tiba ke telinga Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Seorang informan datang menyampaikan laporan aktual bahwa faksi Anshar telah menyatukan suara di bawah kendali Saad bin Ubadah. Informan tersebut memberikan peringatan keras bahwa jika urusan suksesi tidak segera diselesaikan bersama mereka, kondisi geopolitik Madinah akan berada dalam status bahaya yang ireversibel.

Mendengar laporan eskalasi keamanan tersebut, Umar bin Khattab segera mengambil inisiatif taktis. Umar mengarahkan pandangan kepada Abu Bakar dan memberikan rekomendasi logis: "Kita berangkat ke tempat saudara-saudara kita dari Anshar itu, supaya dapat kita lihat keadaan mereka." Langkah ini dinilai penting demi mencegah terjadinya deklasifikasi wilayah atau maklumat sepihak yang dapat meruntuhkan persatuan daulah yang baru berusia satu dekade.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya