Agar Tercipta Pemerataan, Pengelolaan Kurban Perlu Rekayasa Sosial
Mahmuda attar hussein
Kamis, 15 Juli 2021 - 08:28 WIB
Ilustrasi pemerataan pembagian kurban dan peningkatan kesejahteraan. Foto: Langit7/Antara
Peneliti IDEAS Askar Muhammad mengatakan perlunya melakukan rekayasa sosial dalam kegiatan kurban tahun ini. Pasalnya, saat ini terjadi ketidakmerataan daerah surplus dan daerah defisit daging kurban di Indonesia.
Askar mengatakan, kurban tidak hanya sebuah ritual ibadah tapi juga merupakan tradisi sosial ekonomi besar tahunan. Sehingga, sebagai negara muslim terbesar, Indonesia memiliki potensi kurban yang siginifikan.
“Jika terkelola dengan baik semestinya mampu menjadi kekuatan ekonomi. Tidak hanya membantu mustahik tapi juga menyejahterakan peternak rakyat,” katanya saat menjadi pembicara di Webinar Potensi Ekonomi Kurban 2021, Rabu (14/7).
Rekayasa sosial menjadi penting dalam hal ini. Di mana kurban ini nantinya tidak hanya menjadi pranata keagamaan semata tapi juga mampu menyejahterakan perekonomian.
“Maka ada relevansi dan urgensi dikala pandemi seperti ini untuk melakukan rekayasa sosial terkait kurban tahun ini,” kata dia.
Bedasarkan data yang diperolehnya, Askar menjelaskan, rata-rata penduduk di desil tertinggi kelas terkaya mengonsumi 1,39kg daging per kapita tahun. Ini 51 kali lebih tinggi dari rata-rata penduduk di desil terendah kelas termiskin yang hanya mengonsumsi sekitar 0,027kg daging perkapita per tahun.
Sementara pada 2019 konsumsi rata-rata daging sapi di Jakarta Selatan tercatat 2.186kg per kapita per tahun. Hal ini membuktikan bahwa konsumsi daging di kota besar 700 kali lebih tinggi dari konsumsi daging Kabupaten Buton Tengah yang tercatat hanya 0,003kg per kapita per tahun.
Askar mengatakan, kurban tidak hanya sebuah ritual ibadah tapi juga merupakan tradisi sosial ekonomi besar tahunan. Sehingga, sebagai negara muslim terbesar, Indonesia memiliki potensi kurban yang siginifikan.
“Jika terkelola dengan baik semestinya mampu menjadi kekuatan ekonomi. Tidak hanya membantu mustahik tapi juga menyejahterakan peternak rakyat,” katanya saat menjadi pembicara di Webinar Potensi Ekonomi Kurban 2021, Rabu (14/7).
Rekayasa sosial menjadi penting dalam hal ini. Di mana kurban ini nantinya tidak hanya menjadi pranata keagamaan semata tapi juga mampu menyejahterakan perekonomian.
“Maka ada relevansi dan urgensi dikala pandemi seperti ini untuk melakukan rekayasa sosial terkait kurban tahun ini,” kata dia.
Bedasarkan data yang diperolehnya, Askar menjelaskan, rata-rata penduduk di desil tertinggi kelas terkaya mengonsumi 1,39kg daging per kapita tahun. Ini 51 kali lebih tinggi dari rata-rata penduduk di desil terendah kelas termiskin yang hanya mengonsumsi sekitar 0,027kg daging perkapita per tahun.
Sementara pada 2019 konsumsi rata-rata daging sapi di Jakarta Selatan tercatat 2.186kg per kapita per tahun. Hal ini membuktikan bahwa konsumsi daging di kota besar 700 kali lebih tinggi dari konsumsi daging Kabupaten Buton Tengah yang tercatat hanya 0,003kg per kapita per tahun.