home masjid

Pulang Haji: Antara Kerinduan Baitullah dan Dunia Nyata Pasca-Haji

Kamis, 04 Juni 2026 - 04:00 WIB
Kepulangan jemaah haji ke tanah air bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari implementasi nilai-nilai samawi di bumi nyata. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di balik riuh rendah seremoni penyambutan para jemaah haji, ada ruang sunyi di dalam dada setiap jemaah yang baru saja melangkah pergi dari tanah suci. Sebuah ruang yang dipenuhi oleh pergolakan batin tentang apa yang sesungguhnya terjadi setelah prosesi sakral itu usai.

Perasaan berat untuk melangkah pergi ini bukanlah hal baru. Dalam risalah berjudul Mada Bad Al-Hajj yang disusun oleh Divisi Ilmiah Dar Al-Qasim dan diterjemahkan oleh Muhammad Lutfi Firdaus, digambarkan bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya saat akan meninggalkan Baitullah yang mulia.

Nabi meminta mereka melakukan thawaf perpisahan atau thawaf wada sebelum benar-benar keluar dari kota Makkah. Pada momen krusial tersebut, hati dan pandangan mata para sahabat telah dipenuhi oleh keagungan Baitullah yang luar biasa.

Sebagaimana terekam dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاينفرن أحد حتى يكون آخر عهده بالبيت

Artinya: Janganlah seseorang pergi meninggalkan Makkah sehingga mengakhiri ibadahnya di Baitullah dengan melakukan thawaf wada.

Bagi jiwa yang ikhlas karena Allah Subhanahu wa Taala, meninggalkan tempat suci tersebut tidak diragukan lagi akan terasa sangat berat di hati.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya