Indonesia Turun ke Peringkat Empat, Peluang Ekonomi Syariah Global Makin Besar Belum Tergarap Maksimal
Tim langit 7
Kamis, 04 Juni 2026 - 06:54 WIB
Indonesia Turun ke Peringkat Empat, Peluang Ekonomi Syariah Global Makin Besar Belum Tergarap Maksimal
LANGIT7.ID-Jakarta; Pertumbuhan ekonomi Islam dunia terus menunjukkan tren positif. Nilai kapitalisasi pasar ekonomi Islam global pada 2026 mencapai 8,6 triliun dolar AS dan diproyeksikan meningkat hingga sekitar 12-13 triliun dolar AS pada 2029. Namun di tengah besarnya peluang tersebut, posisi Indonesia justru mengalami penurunan dalam peta kekuatan ekonomi syariah dunia.
Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua Lembaga Wakaf MUI dan Ketua Tim Kerja Green Waqf Guntur Subagja Mahardika dalam artikel opini yang diterbitkan situs Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait perkembangan ekonomi syariah global dan posisi Indonesia dalam laporan SGIER 2025/2026.
Berdasarkan State Global Islamic Economy Report (SGIER) 2025/2026 yang disusun DinarStandard bersama Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Indonesia turun dari peringkat ketiga menjadi peringkat keempat dunia dengan skor 96. Posisi teratas masih ditempati Malaysia dengan skor 186,1, disusul Uni Emirat Arab dengan skor 137,5 dan Arab Saudi yang naik ke posisi ketiga dengan skor 107,9. Sementara Bahrain berada di bawah Indonesia dengan skor 76.
Penurunan peringkat tersebut menjadi sorotan karena dalam dua tahun sebelumnya, yakni SGIER 2023/2024 dan SGIER 2024/2025, Indonesia mampu bertahan di posisi tiga besar ekonomi Islam dunia. Kini, Indonesia kembali berada di posisi keempat setelah disalip Arab Saudi.
Meski masih berada dalam lima besar dunia, perkembangan ekonomi syariah nasional dinilai belum tumbuh signifikan dibandingkan besarnya potensi yang dimiliki. Indonesia masih lebih dikenal sebagai konsumen terbesar produk ekonomi syariah dibandingkan produsen utama ekonomi Islam global.
Kondisi tersebut cukup kontras mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia yang mencapai sekitar 245 juta jiwa. Besarnya populasi muslim seharusnya menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri halal dan ekonomi syariah internasional.
Di tingkat global, laporan SGIER 2025/2026 mencatat tujuh sektor utama ekonomi Islam memiliki nilai kapitalisasi mencapai 8,6 triliun dolar AS. Sektor terbesar masih berasal dari keuangan Islam dengan nilai aset mencapai 5,99 triliun dolar AS. Selanjutnya makanan halal mencapai 1,53 triliun dolar AS, busana muslim 347 miliar dolar AS, media dan rekreasi 276 miliar dolar AS, pariwisata ramah muslim 249 miliar dolar AS, farmasi halal 112 miliar dolar AS, serta kosmetik halal sebesar 92 miliar dolar AS.
Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua Lembaga Wakaf MUI dan Ketua Tim Kerja Green Waqf Guntur Subagja Mahardika dalam artikel opini yang diterbitkan situs Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait perkembangan ekonomi syariah global dan posisi Indonesia dalam laporan SGIER 2025/2026.
Berdasarkan State Global Islamic Economy Report (SGIER) 2025/2026 yang disusun DinarStandard bersama Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Indonesia turun dari peringkat ketiga menjadi peringkat keempat dunia dengan skor 96. Posisi teratas masih ditempati Malaysia dengan skor 186,1, disusul Uni Emirat Arab dengan skor 137,5 dan Arab Saudi yang naik ke posisi ketiga dengan skor 107,9. Sementara Bahrain berada di bawah Indonesia dengan skor 76.
Penurunan peringkat tersebut menjadi sorotan karena dalam dua tahun sebelumnya, yakni SGIER 2023/2024 dan SGIER 2024/2025, Indonesia mampu bertahan di posisi tiga besar ekonomi Islam dunia. Kini, Indonesia kembali berada di posisi keempat setelah disalip Arab Saudi.
Meski masih berada dalam lima besar dunia, perkembangan ekonomi syariah nasional dinilai belum tumbuh signifikan dibandingkan besarnya potensi yang dimiliki. Indonesia masih lebih dikenal sebagai konsumen terbesar produk ekonomi syariah dibandingkan produsen utama ekonomi Islam global.
Kondisi tersebut cukup kontras mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia yang mencapai sekitar 245 juta jiwa. Besarnya populasi muslim seharusnya menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri halal dan ekonomi syariah internasional.
Di tingkat global, laporan SGIER 2025/2026 mencatat tujuh sektor utama ekonomi Islam memiliki nilai kapitalisasi mencapai 8,6 triliun dolar AS. Sektor terbesar masih berasal dari keuangan Islam dengan nilai aset mencapai 5,99 triliun dolar AS. Selanjutnya makanan halal mencapai 1,53 triliun dolar AS, busana muslim 347 miliar dolar AS, media dan rekreasi 276 miliar dolar AS, pariwisata ramah muslim 249 miliar dolar AS, farmasi halal 112 miliar dolar AS, serta kosmetik halal sebesar 92 miliar dolar AS.