home masjid

Menolak Sekularisme Barat: Doktrin Kebudayaan Berbasis Fitrah Manusia

Sabtu, 06 Juni 2026 - 05:00 WIB
Esensi dari kebudayaan Islam adalah seni dan sains yang mengantarkan manusia pada keindahan ilahi (al-jamal). Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sistem kebudayaan global yang didominasi oleh paradigma Barat sekuler kini berada pada titik jenuh yang mengkhawatirkan. Pola pembangunan yang bertumpu pada akumulasi material, kebebasan ekonomi tanpa batas, dan marginalisasi nilai-nilai transendental dari ruang publik terbukti gagal menciptakan kebahagiaan substantif bagi umat manusia. Di tengah situasi darurat peradaban ini, tanggapan Islam tentang kebudayaan hadir sebagai sebuah cetak biru alternatif yang radikal, logis, dan sepenuhnya adaptif terhadap kodrat alamiah (fitrah) manusia.

Kebudayaan dalam perspektif Islam tidak diposisikan sebagai sekadar produk budi daya manusia yang bebas nilai atau terlepas dari aturan ketuhanan. Sebaliknya, kebudayaan Islam didesain sebagai sebuah sistem yang mengintegrasikan secara utuh seluruh potensi keduniawian dengan orientasi spiritual.

Konsep integrasi ini tertuang secara mendalam dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, sebuah karya historiografi standar yang ditulis oleh sejarawan terkemuka asal Mesir, Dr. Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya.

Haekal memberikan argumen kuat bahwa tanggapan Islam mengenai kebudayaan merupakan satu-satunya formula yang selaras dengan rancang bangun psikologis dan biologis manusia. Jika prinsip-prinsip kebudayaan Islam ditanamkan secara kokoh dalam kesadaran kolektif global, corak peradaban umat manusia dipastikan akan mengalami perubahan haluan yang mendasar. Struktur sosial yang egois dan eksploitatif akan runtuh, kemudian digantikan oleh tatanan nilai yang lebih luhur. Nilai-nilai inilah yang memiliki kapasitas penuh untuk mengobati krisis dunia modern melalui tuntunan spiritualitas yang cemerlang.

Saat ini, para pemikir di belahan bumi Barat maupun Timur tengah mencurahkan energi komputasi intelektual mereka untuk merumuskan resolusi atas krisis multidimensi ini. Namun, ironisnya, mayoritas dari mereka, termasuk sebagian besar masyarakat Muslim sendiri, tidak menyadari bahwa Islam menyimpan garansi teoretis dan praktis untuk mengatasinya.

Masyarakat Barat modern sedang didera penderitaan eksistensial berupa kehampaan jiwa yang akut akibat patologi mammonisme, yaitu sebuah bentuk penyembahan buta terhadap harta benda dan kapital. Penyakit inilah yang terus-menerus menyeret negara-negara industri maju ke dalam kancah persaingan ekonomi yang destruktif dan peperangan geopolitik yang melelahkan.

Demi melepaskan diri dari jerat paganisme modern tersebut, warga Barat mulai berbondong-bondong mencari pegangan rohani yang baru. Sayangnya, pencarian tersebut sering kali salah arah karena mereka cenderung melirik ajaran mistisisme eskapis dari India dan kawasan Timur Jauh. Padahal, pemenuhan dahaga spiritual dan panduan etika yang terstruktur itu berada sangat dekat dengan mereka. Seluruh ketentuannya telah terukir secara estetis di dalam Al-Quran serta telah diwujudkan secara konkret melalui keteladanan paripurna (uswatun hasanah) Nabi Muhammad selama masa hidupnya sebagai kepala negara dan pemimpin spiritual di Madinah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya