Konstruksi Teologi Emansipatoris: Dampak Sosiologis Salat dalam Menghapus Stratifikasi Kelas
Miftah yusufpati
Rabu, 10 Juni 2026 - 04:44 WIB
Kebebasan dan persamaan hakiki tidak dapat dilahirkan oleh sistem sekuler yang kering dari nilai ketuhanan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Struktur sosial peradaban modern masih terus bergulat dengan pelbagai bentuk stratifikasi kelas, diskriminasi rasial, serta ketimpangan ekonomi. Pelbagai ideologi sekuler kontemporer mencoba merancang konsep persaudaraan dan kesetaraan universal melalui instrumen hukum formal atau konsesi politik kemanusiaan.
Namun, pendekatan eksternal tersebut kerap mengalami kegagalan di tingkat empiris karena tidak mampu menyentuh akar terdalam egoisme manusia. Islam menyelesaikan problem sosiologis ini melalui pendekatan teologis yang radikal dan operasional, yang bermanifestasi secara nyata dalam ibadah salat harian.
Persamaan di hadapan Allah yang diajarkan dalam Islam secara kausalitas memicu lahirnya tatanan persaudaraan yang sebenarnya di ruang publik.
Ketika mendirikan salat, setiap individu dapat merasakan secara langsung bahwa mereka berada pada derajat yang sepenuhnya setara sebagai sesama hamba.
Mereka bersaudara secara intim dalam aktivitas beribadah kepada Allah, dan secara mutlak menegaskan bahwa hanya kepada-Nya mereka mengarahkan penghambaan. Formulasi komprehensif mengenai penundukan ego sosiologis ini dibedah secara mendalam dalam buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal.
Dalam buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya ini, Haekal menjelaskan bahwa model persaudaraan Islam didasarkan pada fondasi saling penghargaan yang sehat, kekuatan renungan, serta kebebasan pandangan yang dianjurkan langsung oleh teks Al-Quran.
Konsep ini menantang nalar publik dengan pertanyaan retoris: adakah kebebasan, persaudaraan, dan persamaan yang derajatnya lebih besar daripada kondisi umat ini di hadapan Allah?
Namun, pendekatan eksternal tersebut kerap mengalami kegagalan di tingkat empiris karena tidak mampu menyentuh akar terdalam egoisme manusia. Islam menyelesaikan problem sosiologis ini melalui pendekatan teologis yang radikal dan operasional, yang bermanifestasi secara nyata dalam ibadah salat harian.
Persamaan di hadapan Allah yang diajarkan dalam Islam secara kausalitas memicu lahirnya tatanan persaudaraan yang sebenarnya di ruang publik.
Ketika mendirikan salat, setiap individu dapat merasakan secara langsung bahwa mereka berada pada derajat yang sepenuhnya setara sebagai sesama hamba.
Mereka bersaudara secara intim dalam aktivitas beribadah kepada Allah, dan secara mutlak menegaskan bahwa hanya kepada-Nya mereka mengarahkan penghambaan. Formulasi komprehensif mengenai penundukan ego sosiologis ini dibedah secara mendalam dalam buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal.
Dalam buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya ini, Haekal menjelaskan bahwa model persaudaraan Islam didasarkan pada fondasi saling penghargaan yang sehat, kekuatan renungan, serta kebebasan pandangan yang dianjurkan langsung oleh teks Al-Quran.
Konsep ini menantang nalar publik dengan pertanyaan retoris: adakah kebebasan, persaudaraan, dan persamaan yang derajatnya lebih besar daripada kondisi umat ini di hadapan Allah?