home masjid

Al-Quran Sebagai Agen Transformasi Moral dan Humanisme Universal Terkuat

Ahad, 14 Juni 2026 - 04:09 WIB
Penekanan Al-Quran pada larangan mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjing adalah kunci utama untuk menjaga stabilitas mental. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Seorang editor senior sebuah media daring duduk mematung di depan layar monitor yang menyala di tengah malam. Jari-jarinya berhenti mengetik. Di hadapannya, arus informasi global terus mengalir tanpa henti, membawa berita tentang korupsi birokrasi, perseteruan geopolitik, hingga ujaran kebencian yang membanjiri lini masa media sosial.

Di era banjir informasi ini, kata-kata sering kali kehilangan taringnya. Ribuan regulasi hukum buatan manusia diproduksi setiap tahun, namun moralitas publik tetap mengalami defisit.

Dalam situasi seperti ini, sang editor membuka sebuah kitab suci kuno yang telah berusia empat belas abad. Ketika membaca baris demi baris kalimatnya, ia menemukan sesuatu yang ganjil bagi ukuran teks sekuler: sebuah kekuatan narasi yang tidak hanya melarang kejahatan pada level tindakan fisik, tetapi juga membedah motif paling personal di dalam dada manusia. Teks ini tidak membutuhkan aparat keamanan untuk memaksa kepatuhan; ia bekerja langsung melalui transformasi kesadaran individu.

Daya dorong sebuah teks terhadap perubahan perilaku manusia merupakan salah satu indikator utama keberhasilan sebuah peradaban. Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad, mengulas dengan sangat lugas mengenai fenomena teologis ini. Dalam buku cetakan kelima tahun 1980 yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya dan diterjemahkan oleh Ali Audah, Haekal mengajukan sebuah tesis yang berani.

Haekal menulis bahwa tidak ada sebuah buku pun yang pernah memberikan dorongan begitu besar kepada orang supaya melakukan kebaikan, seperti yang diberikan oleh Al-Quran itu. Tidak ada buku yang begitu agung mengangkat martabat manusia seperti yang diperlihatkan kitab suci ini.

Al-Quran bicara tentang perbuatan baik, kasih sayang, persaudaraan, cinta kasih, tolong-menolong, keserasian, kedermawanan, kemurahan hati, kesetiaan, penunaian amanat, kebersihan, ketulusan hati, keadilan, sifat pemaaf, kesabaran, ketabahan, kerendahan hati, hingga dorongan melakukan perbuatan terhormat. Menurut Haekal, penyajian semua nilai ini dilakukan dengan tingkat mukjizat sastra atau ijaz yang tidak ada taranya.

Sebaliknya, Al-Quran juga melarang dengan sangat meyakinkan sifat lemah, pengecut, egoisme, dengki, kebencian, kezaliman, berdusta, mengumpat, pemborosan, kekikiran, tuduhan palsu, perkataan buruk, permusuhan, perusakan, tipu muslihat, serta pengkhianatan. Tiada sebuah surah pun yang dibaca tanpa memberikan anjuran untuk mencapai kesempurnaan harga diri dan budi pekerti yang luhur.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya