Alasan di Balik Operasi Pembungkaman Islam oleh Umar bin Khattab di Masa Jahiliah
Miftah yusufpati
Selasa, 16 Juni 2026 - 04:00 WIB
Gejolak hati pemuda Adi yang tadinya panas membara oleh kebencian, seketika tunduk di bawah supremasi kalimat tauhid. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di bawah bayang-bayang bukit batu Makkah, debu berterbangan mengiringi deru napas seorang budak perempuan. Tubuhnya memar, keringat melumuri darah yang mulai mengering di kulitnya.
Di hadapannya, berdiri Umar bin Khattab dengan tangan yang masih memegang cemeti. Umar terus mengayunkan pukulan hingga lengannya terasa kaku dan tenaganya terkuras habis. Ia berhenti, bukan karena iba, melainkan karena lelah yang mendera fisiknya sendiri.
Sambil menyeka peluh, pemuda dari Bani Adi itu menatap dingin sang budak lalu berujar bahwa ia memaafkannya dan berhenti memukul hanya karena sudah bosan. Sang budak, dengan sisa kekuatan yang ada, menjawab bahwa Allah akan membalas perbuatan tersebut dengan setimpal.
Budak perempuan yang malang itu kemudian dibeli oleh Abu Bakar As-Siddiq untuk segera dibebaskan dari belenggu perbudakan.
Aksi represif Umar terhadap para pengikut Muhammad di masa awal Islam merupakan catatan hitam yang terekam kuat dalam historiografi Arab purba. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan Ibn Hisyam, Umar adalah salah satu arsitek utama dalam operasi penyiksaan terhadap kaum duafa yang memilih memeluk Islam.
Target dari operasi kekerasan ini sangat jelas, yaitu memaksa kelompok masyarakat kelas bawah tersebut kembali ke pangkuan agama patriarki dan menyembah berhala-berhala Kabah. Bagi Umar saat itu, pembersihan ideologi baru merupakan tugas suci yang tidak boleh ditunda demi menjaga kehormatan tanah suci.
Namun, mengerdilkan motif perlawanan Umar sekadar sebagai wujud fanatisme buta atau kebodohan sosiologis adalah sebuah kekeliruan fatal.
Di hadapannya, berdiri Umar bin Khattab dengan tangan yang masih memegang cemeti. Umar terus mengayunkan pukulan hingga lengannya terasa kaku dan tenaganya terkuras habis. Ia berhenti, bukan karena iba, melainkan karena lelah yang mendera fisiknya sendiri.
Sambil menyeka peluh, pemuda dari Bani Adi itu menatap dingin sang budak lalu berujar bahwa ia memaafkannya dan berhenti memukul hanya karena sudah bosan. Sang budak, dengan sisa kekuatan yang ada, menjawab bahwa Allah akan membalas perbuatan tersebut dengan setimpal.
Budak perempuan yang malang itu kemudian dibeli oleh Abu Bakar As-Siddiq untuk segera dibebaskan dari belenggu perbudakan.
Aksi represif Umar terhadap para pengikut Muhammad di masa awal Islam merupakan catatan hitam yang terekam kuat dalam historiografi Arab purba. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan Ibn Hisyam, Umar adalah salah satu arsitek utama dalam operasi penyiksaan terhadap kaum duafa yang memilih memeluk Islam.
Target dari operasi kekerasan ini sangat jelas, yaitu memaksa kelompok masyarakat kelas bawah tersebut kembali ke pangkuan agama patriarki dan menyembah berhala-berhala Kabah. Bagi Umar saat itu, pembersihan ideologi baru merupakan tugas suci yang tidak boleh ditunda demi menjaga kehormatan tanah suci.
Namun, mengerdilkan motif perlawanan Umar sekadar sebagai wujud fanatisme buta atau kebodohan sosiologis adalah sebuah kekeliruan fatal.