home global news

Sumatera Barat dalam Peta Besar Konektivitas Rel Sumatra, Jejak Rel Tua yang Masih Melayani Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 - 08:40 WIB
Sumatera Barat dalam Peta Besar Konektivitas Rel Sumatra, Jejak Rel Tua yang Masih Melayani Masyarakat
LANGIT7.ID-Jakarta; Di Sumatera Barat, rel kereta api menyimpan cerita tentang batu bara Ombilin, Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur, Lembah Anai, Sawahlunto, Pariaman, hingga perjalanan masyarakat dari rumah menuju sekolah, kampus, tempat kerja, bandara, dan kawasan wisata.

Cerita itu kini menemukan konteks baru dalam gagasan besar penguatan konektivitas rel di Pulau Sumatra. Pemerintah melalui arahan Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan jaringan kereta api yang lebih terhubung dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Dalam peta besar tersebut, Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah penting karena memiliki sejarah rel yang panjang, aset prasarana yang luas, serta layanan yang masih berperan langsung bagi masyarakat.

Sumatera Barat menjadi salah satu ruang penting untuk membaca perjalanan panjang perkeretaapian di Pulau Sumatra. Di wilayah ini, rel menghubungkan titik keberangkatan dan tujuan, sekaligus menyimpan jejak tambang batu bara Ombilin, Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur, Sawahlunto, Lembah Anai, Pariaman, serta perubahan cara masyarakat bergerak dari masa ke masa.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Sumatera Barat memiliki posisi unik dalam sejarah perkeretaapian nasional. Rel di wilayah ini lahir dari kebutuhan menghubungkan tambang, pelabuhan, kota, dan masyarakat. Dalam perkembangannya, jalur yang sama juga menjadi bagian dari mobilitas harian, akses wisata, dan distribusi barang.

“Sumatera Barat menunjukkan bagaimana kereta api sejak awal menjadi penghubung ekonomi, kota, pelabuhan, dan masyarakat. Jejak itu tetap relevan untuk membaca kebutuhan konektivitas Sumatra hari ini,” ujar Anne.

Sejarah perkeretaapian Sumatera Barat bermula pada akhir abad ke-19, ketika jalur kereta api dibangun untuk menghubungkan kawasan tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto dengan pelabuhan di Padang. Stasiun Padang mulai dibangun pada 6 Juli 1889 untuk memperlancar transportasi batu bara menuju Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur. Stasiun Pulau Air dibangun pada 1891 oleh Staatsspoorwegen ter Sumatras Westkust dan diresmikan pada 1 Oktober 1892. Dari Padang, jaringan rel kemudian berkembang menuju Kayu Tanam, Padang Panjang, Solok, Muaro Kalaban, Sawahlunto, Pariaman, hingga Naras.

Pada masa itu, jalur kereta api Sumatera Barat menghadapi bentang alam yang berat. Rel melewati perbukitan, lembah, dan jalur menanjak. Di kawasan ini masyarakat kemudian mengenal lokomotif uap bergerigi seperti Mak Itam, ikon perkeretaapian Sawahlunto yang lekat dengan sejarah tambang Ombilin.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya