Jembatan Sosial di Kota Baru: Kisah Persaudaraan Muhajirin dan Ansar
Miftah yusufpati
Kamis, 18 Juni 2026 - 05:00 WIB
Hubungan Muhajirin dan Ansar membuktikan bahwa sebuah bangsa tidak diikat oleh kesamaan darah semata. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Panas terik padang pasir masih menyengat kulit ketika rombongan pengungsi dari Mekah tiba di Yatsrib. Mereka datang tanpa membawa harta benda, hanya pakaian di badan dan keimanan di dada.
Di kota baru yang kemudian bernama Madinah ini, ratusan imigran Muslim atau kaum Muhajirin menghadapi ketidakpastian hidup. Mereka kehilangan rumah, pekerjaan, dan jaminan sosial dari suku asal mereka.
Di tengah potensi krisis kemanusiaan yang akut tersebut, Nabi Muhammad mengambil langkah konsolidasi yang radikal untuk mengikat para pendatang dengan penduduk lokal yang dikenal sebagai kaum Ansar.
Langkah pertama yang diambil bukan membangun infrastruktur fisik, melainkan merekayasa struktur sosial. Nabi mengumpulkan kedua kelompok tersebut di rumah Anas bin Malik. Di sana, beliau mempersaudarakan sekitar sembilan puluh orang, separuh dari Muhajirin dan separuh dari Ansar, secara personal, satu per satu. Ikatan baru ini melintasi batas darah, suku, dan status sosial ekonomi.
Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal yang diterjemahkan Ali Audah, dijelaskan bahwa persaudaraan ini dibuat sedemikian rupa sehingga mereka berada dalam status saudara sedarah.
Haekal mencatat bahwa persaudaraan sesama orang beriman secara umum itu adalah persaudaraan kasih sayang untuk membangun suatu sendi kebudayaan yang masih muda waktu itu. Formula ini berhasil meredam potensi konflik kecemburuan sosial yang biasanya muncul dalam fenomena migrasi massal.
Rekayasa Ekonomi
Di kota baru yang kemudian bernama Madinah ini, ratusan imigran Muslim atau kaum Muhajirin menghadapi ketidakpastian hidup. Mereka kehilangan rumah, pekerjaan, dan jaminan sosial dari suku asal mereka.
Di tengah potensi krisis kemanusiaan yang akut tersebut, Nabi Muhammad mengambil langkah konsolidasi yang radikal untuk mengikat para pendatang dengan penduduk lokal yang dikenal sebagai kaum Ansar.
Langkah pertama yang diambil bukan membangun infrastruktur fisik, melainkan merekayasa struktur sosial. Nabi mengumpulkan kedua kelompok tersebut di rumah Anas bin Malik. Di sana, beliau mempersaudarakan sekitar sembilan puluh orang, separuh dari Muhajirin dan separuh dari Ansar, secara personal, satu per satu. Ikatan baru ini melintasi batas darah, suku, dan status sosial ekonomi.
Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal yang diterjemahkan Ali Audah, dijelaskan bahwa persaudaraan ini dibuat sedemikian rupa sehingga mereka berada dalam status saudara sedarah.
Haekal mencatat bahwa persaudaraan sesama orang beriman secara umum itu adalah persaudaraan kasih sayang untuk membangun suatu sendi kebudayaan yang masih muda waktu itu. Formula ini berhasil meredam potensi konflik kecemburuan sosial yang biasanya muncul dalam fenomena migrasi massal.
Rekayasa Ekonomi