home masjid

Islam Mewajibkan Penguasa Memilih Pendamping yang Saleh

Sabtu, 20 Juni 2026 - 05:20 WIB
Kualitas seorang pemimpin dapat dinilai secara objektif dari siapa saja orang-orang yang ia tempatkan di sekelilingnya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Lampu di lantai dua gedung kementerian itu masih benderang meski waktu telah melewati tengah malam. Di dalam ruangan, seorang kepala daerah tampak gusar memandangi draf peraturan wilayah yang baru saja menuai protes masif dari elemen masyarakat. Di sampingnya, seorang penasihat politik bersetelan rapi terus memberikan argumentasi retoris agar sang pejabat mengabaikan kritik publik demi mengamankan investasi kelompok usaha mereka. Kebijakan itu akhirnya diteken, dan dua bulan kemudian, sang kepala daerah diperiksa aparat penegak hukum atas dugaan penyalahgunaan wewenang.

Kisah tentang pemimpin yang tergelincir akibat bisikan keliru dari lingkaran terdekatnya menjadi fakta yang terus berulang dalam dinamika politik modern. Berdasarkan data komparatif dari berbagai lembaga kajian tata kelola pemerintahan, sebagian besar regulasi yang bermasalah secara hukum lahir dari rekomendasi tim ahli atau penasihat yang tidak kompeten dan sarat kepentingan transaksional. Lingkar dalam penguasa sering kali beralih fungsi menjadi benteng yang menjauhkan pemimpin dari realitas penderitaan rakyat.

Islam memberikan panduan yang sangat ketat mengenai struktur di ring satu kekuasaan ini. Seorang pemimpin wajib mengambil penasihat dari kalangan orang-orang saleh dan lurus. Karakter pendamping seperti ini sangat krusial karena mereka mampu mengingatkan sang pemimpin saat ia lalai, serta bersedia membantunya saat ia teringat akan kebaikan. Mereka menjadi benteng moral yang selalu mengawasi penguasa agar tetap bersikap baik, berlaku adil, memberikan pengarahan objektif, serta mendorong pada ketakwaan.

Rasulullah memberikan gambaran teologis mengenai keberadaan dua faksi pembisik ini dalam sabdanya:

مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى.

Tidak ada nabi yang Allah utus, dan tidak pula ada seorang pemimpin yang Dia angkat, kecuali mereka mempunyai dua jenis teman dekat. Teman yang menyuruhnya untuk berbuat baik serta selalu membantunya dalam berbuat baik, dan teman yang menyuruhnya untuk berbuat jahat serta selalu mendorongnya untuk melakukan tindak kejahatan. Orang yang selamat, ialah orang yang memang dijaga Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dampak Buruk Pembisik yang Korup
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya