LANGIT7.ID-Lampu di lantai dua gedung kementerian itu masih benderang meski waktu telah melewati tengah malam. Di dalam ruangan, seorang kepala daerah tampak gusar memandangi draf peraturan wilayah yang baru saja menuai protes masif dari elemen masyarakat. Di sampingnya, seorang penasihat politik bersetelan rapi terus memberikan argumentasi retoris agar sang pejabat mengabaikan kritik publik demi mengamankan investasi kelompok usaha mereka. Kebijakan itu akhirnya diteken, dan dua bulan kemudian, sang kepala daerah diperiksa aparat penegak hukum atas dugaan penyalahgunaan wewenang.
Kisah tentang pemimpin yang tergelincir akibat bisikan keliru dari lingkaran terdekatnya menjadi fakta yang terus berulang dalam dinamika politik modern. Berdasarkan data komparatif dari berbagai lembaga kajian tata kelola pemerintahan, sebagian besar regulasi yang bermasalah secara hukum lahir dari rekomendasi tim ahli atau penasihat yang tidak kompeten dan sarat kepentingan transaksional. Lingkar dalam penguasa sering kali beralih fungsi menjadi benteng yang menjauhkan pemimpin dari realitas penderitaan rakyat.
Islam memberikan panduan yang sangat ketat mengenai struktur di ring satu kekuasaan ini. Seorang pemimpin wajib mengambil penasihat dari kalangan orang-orang saleh dan lurus. Karakter pendamping seperti ini sangat krusial karena mereka mampu mengingatkan sang pemimpin saat ia lalai, serta bersedia membantunya saat ia teringat akan kebaikan. Mereka menjadi benteng moral yang selalu mengawasi penguasa agar tetap bersikap baik, berlaku adil, memberikan pengarahan objektif, serta mendorong pada ketakwaan.
Rasulullah memberikan gambaran teologis mengenai keberadaan dua faksi pembisik ini dalam sabdanya:
مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى.Tidak ada nabi yang Allah utus, dan tidak pula ada seorang pemimpin yang Dia angkat, kecuali mereka mempunyai dua jenis teman dekat. Teman yang menyuruhnya untuk berbuat baik serta selalu membantunya dalam berbuat baik, dan teman yang menyuruhnya untuk berbuat jahat serta selalu mendorongnya untuk melakukan tindak kejahatan. Orang yang selamat, ialah orang yang memang dijaga Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dampak Buruk Pembisik yang KorupMelalui ketetapan hukum tersebut, tidak ada kebaikan yang dapat diharapkan dari lingkaran penasihat yang buruk. Kelompok ini tidak memiliki motif untuk membantu mewujudkan kebajikan sosial. Sebaliknya, mereka bertindak sebagai kepanjangan tangan setan untuk menggelincirkan pemimpin ke dalam jurang kezaliman demi keuntungan materi sepihak.
Pemikir besar Islam abad pertengahan, Al-Mawardi, dalam kitab
Al-Ahkam As-Sultaniyah, menuliskan bab khusus mengenai pentingnya kriteria wazir atau menteri penasihat. Al-Mawardi menegaskan bahwa rusaknya suatu negara sering kali bukan karena kelemahan sang raja semata, melainkan karena penguasa dikelilingi oleh para pencari muka yang menyembunyikan kebenaran. Penasihat yang baik harus memiliki keberanian moral untuk berkata tidak ketika penguasa merencanakan kebijakan yang menindas kaum duafa.
Hal senada diungkapkan oleh ulama internasional asal Tunisia, Ibnu Khaldun, dalam mahakaryanya, Muqaddimah. Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa ketika sebuah dinasti mulai runtuh, salah satu tandanya adalah tersingkirnya orang-orang jujur dan berilmu dari lingkaran istana. Posisi mereka digantikan oleh para makelar politik yang hanya memikirkan cara menguras kas negara dan memperpanjang masa kekuasaan kelompok mereka dengan segala cara.
Rambu Etika Politik PublikMemilih rekan dialog yang saleh bukan sekadar urusan kesalehan ritual individual, melainkan kapasitas profesionalitas yang dibimbing oleh integritas moral keagamaan. Di era modern, konsep penasihat saleh ini termanifestasi dalam bentuk tim ahli yang memiliki rekam jejak bersih, transparan, dan tidak memiliki benturan kepentingan dengan objek kebijakan yang dirumuskan.
Penguasa yang sengaja memelihara pembisik korup demi mengamankan oligarki politiknya secara sadar sedang meruntuhkan legitimasinya di hadapan publik. Ketika akses kritik dari luar ditutup dan hanya suara-suara jor-joran pujian dari dalam yang didengar, kehancuran tatanan birokrasi tinggal menunggu waktu.
Kesimpulannya, kualitas seorang pemimpin dapat dinilai secara objektif dari siapa saja orang-orang yang ia tempatkan di sekelilingnya. Jabatan publik memerlukan kontrol moral yang ketat, dan hal itu hanya bisa disediakan oleh para penasihat yang memprioritaskan kemaslahatan akhirat dan hak-hak rakyat di atas segalanya. Saat seorang penguasa memilih mengelilingi singgasananya dengan para petualang politik yang culas, ia sesungguhnya sedang memuluskan langkahnya sendiri menuju pengadilan sejarah yang kelam di dunia dan pertanggungjawaban yang mengerikan di hadapan Tuhan kelak.
(mif)