home masjid

Ahmad bin Hanbal: Umar bin Khattab Masuk Islam Setelah Sembunyi di Balik Kain Ka'bah

Ahad, 21 Juni 2026 - 05:00 WIB
Hidayah bekerja melalui jalur logika bahasa dan kesadaran spiritual yang matang. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Malam itu, sudut-sudut kota Mekah terasa lengang bagi Umar bin Khattab. Sebagai seorang pecandu minuman keras di zaman jahiliah, langkah kakinya malam itu digerakkan oleh satu syahwat: berburu khamar. Umar mendatangi tempat berkumpulnya para pemuka Quraisy, namun kosong.

Ia kemudian bergegas menuju kedai seorang pedagang khamar di sudut kota, tetapi sang penjual pun tidak berada di tempat. Dirundung rasa sepi dan kegagalan mendapatkan arak, Umar memutuskan untuk mengalihkan tujuannya ke Masjidil Haram guna melakukan tawaf di Ka'bah.

Namun, di pelataran suci itu, langkah Umar terhenti. Ia melihat Rasulullah sedang melaksanakan salat sendirian menghadap Syam, dengan posisi di antara sudut Hajar Aswad dan sudut Yamani.

Didorong oleh rasa penasaran untuk mendengarkan apa yang diucapkan oleh Muhammad, Umar berjalan perlahan memanfaatkan situasi malam yang sepi. Ia menyelinap masuk ke balik kain kelambu atau kiswah Ka'bah dan berjalan mengendap-endap hingga berdiri tepat di depan Nabi, hanya terhalang oleh selembar kain Ka'bah. Dari balik kain itulah, transformasi psikologis terbesar dalam sejarah Islam dimulai dari sudut pandang Umar sendiri.

Narasi autentik ini memberikan perspektif baru yang berbeda dari cerita populer tentang pertikaian di rumah adiknya, Fatimah binti Khattab. Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang berjudul Al-Faruq Umar (Pustaka Litera AntarNusa, 2000), menggarisbawahi bahwa penuturan langsung dari Umar ini tercatat secara sahih dalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Sumber primer ini menawarkan analisis psikologis yang lebih masuk akal mengenai proses hidayah yang menyentuh hati sang singa padang pasir.

Sentuhan Estetika

Saat berada di balik kain Ka'bah, Umar mendengarkan dengan saksama untaian ayat Al-Qur'an yang dibacakan oleh Rasulullah dalam salatnya. Lantunan ayat-ayat tersebut seketika meruntuhkan keangkuhan sang pembenci Islam. Jiwa sastra Umar yang tinggi tidak mampu menolak keindahan susunan kalimat yang ia dengar. Tatkala mendengar bacaan tersebut, hati Umar bergetar hebat hingga air matanya menetes. Islam telah menyelinap masuk ke dalam hatinya sebelum ia sempat menyadarinya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya