LANGIT7.ID- Malam itu, sudut-sudut kota Mekah terasa lengang bagi Umar bin Khattab. Sebagai seorang pecandu minuman keras di zaman jahiliah, langkah kakinya malam itu digerakkan oleh satu syahwat: berburu khamar. Umar mendatangi tempat berkumpulnya para pemuka Quraisy, namun kosong.
Ia kemudian bergegas menuju kedai seorang pedagang khamar di sudut kota, tetapi sang penjual pun tidak berada di tempat. Dirundung rasa sepi dan kegagalan mendapatkan arak, Umar memutuskan untuk mengalihkan tujuannya ke Masjidil Haram guna melakukan tawaf di Ka'bah.
Namun, di pelataran suci itu, langkah Umar terhenti. Ia melihat Rasulullah sedang melaksanakan salat sendirian menghadap Syam, dengan posisi di antara sudut Hajar Aswad dan sudut Yamani.
Didorong oleh rasa penasaran untuk mendengarkan apa yang diucapkan oleh Muhammad, Umar berjalan perlahan memanfaatkan situasi malam yang sepi. Ia menyelinap masuk ke balik kain kelambu atau kiswah Ka'bah dan berjalan mengendap-endap hingga berdiri tepat di depan Nabi, hanya terhalang oleh selembar kain Ka'bah. Dari balik kain itulah, transformasi psikologis terbesar dalam sejarah Islam dimulai dari sudut pandang Umar sendiri.
Narasi autentik ini memberikan perspektif baru yang berbeda dari cerita populer tentang pertikaian di rumah adiknya, Fatimah binti Khattab. Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang berjudul
Al-Faruq Umar (Pustaka Litera AntarNusa, 2000), menggarisbawahi bahwa penuturan langsung dari Umar ini tercatat secara sahih dalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Sumber primer ini menawarkan analisis psikologis yang lebih masuk akal mengenai proses hidayah yang menyentuh hati sang singa padang pasir.
Sentuhan EstetikaSaat berada di balik kain Ka'bah, Umar mendengarkan dengan saksama untaian ayat Al-Qur'an yang dibacakan oleh Rasulullah dalam salatnya. Lantunan ayat-ayat tersebut seketika meruntuhkan keangkuhan sang pembenci Islam. Jiwa sastra Umar yang tinggi tidak mampu menolak keindahan susunan kalimat yang ia dengar. Tatkala mendengar bacaan tersebut, hati Umar bergetar hebat hingga air matanya menetes. Islam telah menyelinap masuk ke dalam hatinya sebelum ia sempat menyadarinya.
Dalam riwayat yang diperkuat oleh Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Umar menceritakan secara detail bahwa pada malam itu Rasulullah sedang melantunkan Surah Al-Haqqah. Ketika Umar berdiri di belakang Nabi dan mengagumi keindahan bahasanya, prasangka lamanya sebagai orang Quraisy sempat muncul.
Dalam hatinya, Umar membatin bahwa Muhammad adalah seorang penyair yang andal. Namun, seolah menjawab isi kepala Umar, Rasulullah membaca ayat berikutnya yang berbunyi bahwa Al-Qur'an adalah perkataan rasul yang mulia dan bukan perkataan seorang penyair.
Mendengar ayat tersebut, Umar terkejut dan segera mengubah asumsinya. Ia membatin kembali bahwa Muhammad pasti seorang dukun atau peramal. Detik itu juga, Rasulullah melanjutkan bacaan ayat berikutnya yang menegaskan bahwa Al-Qur'an juga bukan perkataan peramal, melainkan wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Ayat-ayat dari Surah Al-Haqqah tersebut menembus benteng pertahanan psikologis Umar hingga ia tidak berkutik di hadapan kebenaran wahyu.
Dialog Hangat di Ambang PintuUmar terus berdiri terpaku di balik kain Ka'bah hingga Rasulullah menyelesaikan salatnya. Ketika Nabi mulai berjalan pulang menuju rumahnya, Umar melangkah di belakangnya secara senyap. Mendengar suara gerak-gerik langkah kaki di kegelapan malam, Rasulullah mengenali sosok tersebut. Mengira Umar membuntutinya untuk melakukan kekerasan, Rasulullah berbalik dan menghardiknya dengan tegas menanyakan maksud kedatangannya.
Jawaban yang keluar dari mulut Umar malam itu justru membalikkan semua kecurigaan. Umar menjawab dengan lirih bahwa kedatangannya adalah untuk menyatakan keimanan kepada Allah, kepada Rasul-Nya, serta kepada segala hal yang dibawa dari Allah.
Mendengar pengakuan lisan tersebut, Rasulullah mengucap syukur, menyatakan bahwa Allah telah memberikan petunjuk kepada Umar, lalu mengusap dada Umar sambil mendoakannya agar senantiasa diberikan ketabahan dalam memeluk agama Islam.
Catatan sejarah dari sejarawan awal seperti Ibnu Ishaq menempatkan kedua versi kisah masuk Islamnya Umar ini secara berurutan. Ibnu Ishaq menegaskan bahwa kebenaran mutlak mengenai peristiwa mana yang mendahului hanya diketahui oleh Allah. Namun, dari kacamata logika kritis, versi yang bersumber dari penuturan Umar sendiri di pelataran Ka'bah ini dinilai memiliki tingkat rasionalitas dan kedalaman psikologis yang lebih tinggi.
Kritik HistorisMuhammad Husain Haekal dalam analisis kritisnya menilai versi kedua ini jauh lebih masuk akal dibandingkan versi populer tentang Umar yang membawa pedang terhunus menuju Darul Arqam. Secara taktis militer dan sosiologis, sangat tidak masuk akal jika Umar yang seorang diri bertekad membunuh Nabi di tengah-tengah empat puluh orang sahabat yang siap berperang, termasuk tokoh-tokoh kuat seperti Hamzah bin Abdul Muttalib dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah.
Teori ini sejalan dengan pandangan pemikir Islam asal India, Sayyid Abul A'la Maududi, dalam karyanya
Tajdid wa Ihya ad-Din (Dar al-Fikr, 1955), yang menyebutkan bahwa perubahan ideologis seorang tokoh besar seperti Umar jarang terjadi secara instan tanpa adanya proses perenungan internal yang panjang. Sifat kritis Umar membuatnya tidak mungkin tunduk hanya karena sebuah insiden kekerasan di rumah adiknya, melainkan karena ia telah lama mengkaji dan merenungkan kebenaran Al-Qur'an secara diam-diam.
Proses masuk Islamnya Umar membuktikan bahwa hidayah bekerja melalui jalur logika bahasa dan kesadaran spiritual yang matang. Sentuhan keindahan Surah Al-Haqqah di balik kain Ka'bah telah mengubah arah hidup seorang tiran menjadi pelindung utama dakwah Islam.
Kisah ini meninggalkan satu catatan menarik tentang bagaimana sebuah pencarian khamar di malam hari justru berujung pada penemuan mata air iman yang mengubah jalannya peradaban dunia. Namun, sebuah misteri kecil tetap menggantung: apakah teman-teman pemuka Quraisy Umar malam itu akhirnya tahu bahwa mereka telah kehilangan rekan minum terbaik mereka akibat sebuah ketidakhadiran di kedai arak?
(mif)