home global news

Rupiah Melemah ke Rp17.859 per Dolar AS, Sentimen MSCI dan Ancaman PHK Bayangi Pasar

Selasa, 23 Juni 2026 - 15:34 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.859 per Dolar AS, Sentimen MSCI dan Ancaman PHK Bayangi Pasar
LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026) di tengah kombinasi sentimen domestik dan global yang masih membebani pergerakan mata uang Garuda. Pelemahan terjadi seiring kehati-hatian pelaku pasar terhadap evaluasi MSCI serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi industri manufaktur nasional.

Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 16 poin ke level Rp17.859 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.843 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bahkan sempat tertekan lebih dalam dengan pelemahan mencapai 35 poin sebelum memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan.

Pergerakan rupiah masih dipengaruhi sejumlah sentimen domestik yang menjadi perhatian investor. Salah satunya adalah hasil evaluasi MSCI yang dinantikan pasar setelah lembaga tersebut sebelumnya merilis Global Market Accessibility Review. Dalam laporan tersebut, MSCI menurunkan penilaian indikator Information Flow Indonesia dari positif menjadi negatif.

Penurunan penilaian tersebut dipicu sejumlah catatan terkait transparansi struktur kepemilikan saham publik atau free float, indikasi aktivitas perdagangan yang dinilai terkoordinasi, serta ketersediaan informasi emiten yang dinilai belum sepenuhnya tersedia dalam bahasa Inggris. Kondisi ini sempat menimbulkan tekanan terhadap pasar keuangan domestik karena berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap aksesibilitas pasar modal Indonesia.

Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan sektor manufaktur nasional yang menghadapi berbagai tantangan. Sejumlah perusahaan dilaporkan mengalami penghentian produksi, keterlambatan pembayaran gaji, hingga rencana relokasi investasi ke negara lain. Situasi tersebut dinilai menjadi sinyal melemahnya daya saing industri manufaktur Indonesia.

Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah muncul potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di empat perusahaan yang terdampak ketidakpastian global, termasuk konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Salah satu perusahaan komponen otomotif di Pasuruan dan Mojokerto bahkan disebut terancam melakukan PHK terhadap ribuan pekerja akibat perubahan strategi produksi dari prinsipal di Jepang yang mulai melakukan diversifikasi ke komponen kendaraan listrik.

Jika relokasi investasi benar terjadi, dampaknya terhadap industri dalam negeri akan bergantung pada orientasi produksi pabrik tersebut. Apabila produksi ditujukan untuk pasar domestik, produsen kendaraan harus mencari pemasok pengganti. Namun apabila sebagian besar produksinya ditujukan untuk ekspor, dampaknya berpotensi lebih besar terhadap penerimaan negara.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya