Api dalam Sekam di Mata Air Al-Muraisi: Kisah Perseteruan Ansar dan Muhajirin
Miftah yusufpati
Senin, 29 Juni 2026 - 05:49 WIB
Perseteruan antara Ansar dan Muhajirin pada akhirnya tidak diselesaikan dengan pedang Umar, melainkan melalui integrasi sosial yang sistematis dan pemulihan psikologis massa. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Riuh rendah suara prajurit yang melepas lelah di sekitar mata air Al-Muraisi mendadak berubah menjadi ketegangan laten. Dua orang pria dari faksi yang berbeda saling cengkeram setelah adu mulut mengenai giliran mengambil air. Satu orang berasal dari kaum Muhajirin, imigran asal Makkah, dan yang lain adalah warga lokal dari kaum Ansar Madinah.
Konflik kecil di sela-sela berakhirnya ekspedisi militer melawan Banu Mustaliq ini dengan cepat membesar ketika ego kelompok terpantik. Pria Muhajirin berteriak lantang memanggil kelompoknya, yang segera dibalas dengan pekikan solidaritas oleh pria Ansar. Suasana pangkalan militer itu seketika mencekam. Dua faksi yang selama ini disatukan oleh ikatan iman, tiba-tiba berdiri berhadapan dengan tangan yang nyaris menyentuh hulu pedang.
Insiden domestik ini menyingkap fakta bahwa di bawah narasi persaudaraan suci Madinah, bara sentimen kesukuan pra-Islam ternyata belum sepenuhnya padam.
Gesekan sosiologis di mata air tersebut menjadi panggung yang sempurna bagi Abdullah bin Ubai bin Salul, pemimpin kelompok munafik di Madinah. Menyaksikan perpecahan di depan mata, ia langsung menghembuskan angin provokasi kepada pengikutnya.
Tokoh oposisi ini mengumpamakan kehadiran kaum Muhajirin di Madinah seperti membesarkan anak harimau yang kelak akan menerkam induknya sendiri. Ia bahkan melontarkan ancaman politik yang sangat berani: sekembalinya pasukan ke Madinah, kelompok yang kuat dan mulia akan mengusir faksi yang lemah dan hina. Narasi diskriminatif ini sengaja dirancang untuk merusak stabilitas koalisi pemerintahan baru yang dipimpin oleh Nabi Muhammad.
Informasi mengenai sabotase politik internal ini segera sampai ke telinga Nabi Muhammad yang saat itu sedang didampingi oleh Umar bin Khattab. Karakter Umar yang meledak-ledak dan bertumpu pada penegakan hukum yang kaku langsung merespons keras.
Dalam buku Al-Faruq Umar karya Muhammad Husain Haekal yang diterjemahkan oleh Ali Audah, Umar digambarkan naik pitam dan langsung meminta otoritas eksekusi militer kepada Nabi Muhammad untuk menghukum mati Abdullah bin Ubai. Bagi Umar, provokasi di tengah operasi militer adalah tindakan makar tingkat tinggi yang dapat menghancurkan kedaulatan negara dari dalam.
Konflik kecil di sela-sela berakhirnya ekspedisi militer melawan Banu Mustaliq ini dengan cepat membesar ketika ego kelompok terpantik. Pria Muhajirin berteriak lantang memanggil kelompoknya, yang segera dibalas dengan pekikan solidaritas oleh pria Ansar. Suasana pangkalan militer itu seketika mencekam. Dua faksi yang selama ini disatukan oleh ikatan iman, tiba-tiba berdiri berhadapan dengan tangan yang nyaris menyentuh hulu pedang.
Insiden domestik ini menyingkap fakta bahwa di bawah narasi persaudaraan suci Madinah, bara sentimen kesukuan pra-Islam ternyata belum sepenuhnya padam.
Gesekan sosiologis di mata air tersebut menjadi panggung yang sempurna bagi Abdullah bin Ubai bin Salul, pemimpin kelompok munafik di Madinah. Menyaksikan perpecahan di depan mata, ia langsung menghembuskan angin provokasi kepada pengikutnya.
Tokoh oposisi ini mengumpamakan kehadiran kaum Muhajirin di Madinah seperti membesarkan anak harimau yang kelak akan menerkam induknya sendiri. Ia bahkan melontarkan ancaman politik yang sangat berani: sekembalinya pasukan ke Madinah, kelompok yang kuat dan mulia akan mengusir faksi yang lemah dan hina. Narasi diskriminatif ini sengaja dirancang untuk merusak stabilitas koalisi pemerintahan baru yang dipimpin oleh Nabi Muhammad.
Informasi mengenai sabotase politik internal ini segera sampai ke telinga Nabi Muhammad yang saat itu sedang didampingi oleh Umar bin Khattab. Karakter Umar yang meledak-ledak dan bertumpu pada penegakan hukum yang kaku langsung merespons keras.
Dalam buku Al-Faruq Umar karya Muhammad Husain Haekal yang diterjemahkan oleh Ali Audah, Umar digambarkan naik pitam dan langsung meminta otoritas eksekusi militer kepada Nabi Muhammad untuk menghukum mati Abdullah bin Ubai. Bagi Umar, provokasi di tengah operasi militer adalah tindakan makar tingkat tinggi yang dapat menghancurkan kedaulatan negara dari dalam.