Rupiah Perkasa ke Rp17.851 per Dolar AS, Sentimen Domestik Jadi Penopang
Nabil
Senin, 29 Juni 2026 - 15:22 WIB
Rupiah Perkasa ke Rp17.851 per Dolar AS, Sentimen Domestik Jadi Penopang
LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin (29/6/2026) di tengah kombinasi sentimen domestik dan global yang masih membayangi pasar keuangan. Mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp17.851 per dolar AS, menguat 71 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.922 per dolar AS.
Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bahkan sempat terapresiasi hingga 85 poin sebelum akhirnya memangkas sebagian penguatannya menjelang penutupan pasar. Kinerja tersebut menunjukkan rupiah masih mampu bertahan di tengah tingginya ketidakpastian global yang dipicu perkembangan geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Dari sisi domestik, pelaku pasar masih menanti sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis pada awal Juli, terutama data neraca perdagangan Indonesia dan tingkat inflasi. Kedua indikator tersebut diperkirakan menjadi acuan penting dalam membaca kondisi fundamental ekonomi nasional sekaligus menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Selain itu, kebijakan restrukturisasi badan usaha milik negara (BUMN) juga menjadi perhatian investor. Presiden Prabowo sebelumnya menyatakan akan memangkas jumlah BUMN dari sekitar 1.000 menjadi sekitar 250 perusahaan. Langkah tersebut dinilai bertujuan meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi beban anggaran pemerintah.
Sentimen positif lainnya datang dari keputusan pemerintah yang tidak mengambil tawaran bantuan dana sebesar USD30 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF). Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal kepercayaan pemerintah terhadap ketahanan fundamental ekonomi nasional dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
Likuiditas perbankan juga diperkirakan mendapat dorongan setelah dana pemerintah yang ditempatkan di Bank Indonesia dikembalikan ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) senilai Rp281 triliun. Sebelumnya, dana tersebut sempat ditarik secara bertahap sebesar Rp110 triliun sebelum akhirnya dikembalikan sehingga total penempatan tetap berada di angka Rp281 triliun.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan dana siaga hingga Rp100 triliun untuk ditempatkan di sektor perbankan apabila diperlukan. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat likuiditas perbankan sehingga kapasitas penyaluran kredit kepada masyarakat tetap terjaga.
Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bahkan sempat terapresiasi hingga 85 poin sebelum akhirnya memangkas sebagian penguatannya menjelang penutupan pasar. Kinerja tersebut menunjukkan rupiah masih mampu bertahan di tengah tingginya ketidakpastian global yang dipicu perkembangan geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Dari sisi domestik, pelaku pasar masih menanti sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis pada awal Juli, terutama data neraca perdagangan Indonesia dan tingkat inflasi. Kedua indikator tersebut diperkirakan menjadi acuan penting dalam membaca kondisi fundamental ekonomi nasional sekaligus menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Selain itu, kebijakan restrukturisasi badan usaha milik negara (BUMN) juga menjadi perhatian investor. Presiden Prabowo sebelumnya menyatakan akan memangkas jumlah BUMN dari sekitar 1.000 menjadi sekitar 250 perusahaan. Langkah tersebut dinilai bertujuan meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi beban anggaran pemerintah.
Sentimen positif lainnya datang dari keputusan pemerintah yang tidak mengambil tawaran bantuan dana sebesar USD30 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF). Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal kepercayaan pemerintah terhadap ketahanan fundamental ekonomi nasional dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
Likuiditas perbankan juga diperkirakan mendapat dorongan setelah dana pemerintah yang ditempatkan di Bank Indonesia dikembalikan ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) senilai Rp281 triliun. Sebelumnya, dana tersebut sempat ditarik secara bertahap sebesar Rp110 triliun sebelum akhirnya dikembalikan sehingga total penempatan tetap berada di angka Rp281 triliun.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan dana siaga hingga Rp100 triliun untuk ditempatkan di sektor perbankan apabila diperlukan. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat likuiditas perbankan sehingga kapasitas penyaluran kredit kepada masyarakat tetap terjaga.