Antara Ketegasan Umar dan Diplomasi Nabi: Membaca Sisi Manajemen Krisis Daulah Islam
Miftah yusufpati
Rabu, 01 Juli 2026 - 05:07 WIB
Membaca sikap Umar bin Khattab adalah membaca bagaimana sebuah sistem pemerintahan yang sehat memberikan ruang bagi kritik yang lahir dari keikhlasan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID - Langkah kaki Umar bin Khattab tertahan di depan pintu kemah Nabi Muhammad ketika malam merayap di pinggiran kota Mekah.
Di luar, Abbas bin Abdul Muttalib baru saja datang menunggangi bagal putih milik Nabi dengan membonceng tokoh puncak Quraisy, Abu Sufyan bin Harb.
Mengetahui musuh besar Islam itu berada di depan mata tanpa perlindungan perang, insting keamanan Umar langsung bergolak.
Ia segera menghadap Nabi Muhammad dan meminta izin untuk memenggal leher Abu Sufyan demi menuntaskan ancaman politik yang selama puluhan tahun meneror kaum muslimin.
Namun, Abbas dengan cepat memotong bahwa dirinya telah memberikan jaminan perlindungan (jiwar) kepada Abu Sufyan.
Perdebatan sengit antara Umar dan Abbas pun pecah di dalam kemah, memaksa Nabi Muhammad mengambil keputusan taktis untuk menangguhkan perkara tersebut hingga keesokan harinya.
Peristiwa menjelang Fathu Mekah itu memperlihatkan watak dasar Umar yang sangat berkukuh pada prinsip keamanan absolut. Logika keprajuritan Umar sering kali melampaui batas keteguhan hati biasa, sehingga dalam beberapa momentum tampak kontras dengan sifat Nabi Muhammad yang penuh pertimbangan, pemaaf, dan bijaksana.
Di luar, Abbas bin Abdul Muttalib baru saja datang menunggangi bagal putih milik Nabi dengan membonceng tokoh puncak Quraisy, Abu Sufyan bin Harb.
Mengetahui musuh besar Islam itu berada di depan mata tanpa perlindungan perang, insting keamanan Umar langsung bergolak.
Ia segera menghadap Nabi Muhammad dan meminta izin untuk memenggal leher Abu Sufyan demi menuntaskan ancaman politik yang selama puluhan tahun meneror kaum muslimin.
Namun, Abbas dengan cepat memotong bahwa dirinya telah memberikan jaminan perlindungan (jiwar) kepada Abu Sufyan.
Perdebatan sengit antara Umar dan Abbas pun pecah di dalam kemah, memaksa Nabi Muhammad mengambil keputusan taktis untuk menangguhkan perkara tersebut hingga keesokan harinya.
Peristiwa menjelang Fathu Mekah itu memperlihatkan watak dasar Umar yang sangat berkukuh pada prinsip keamanan absolut. Logika keprajuritan Umar sering kali melampaui batas keteguhan hati biasa, sehingga dalam beberapa momentum tampak kontras dengan sifat Nabi Muhammad yang penuh pertimbangan, pemaaf, dan bijaksana.