home global news

Rupiah Ditutup Anjlok ke Rp18.128 per Dolar AS, Analis Proyeksikan Masih Melemah Besok

Kamis, 09 Juli 2026 - 18:16 WIB
Rupiah Ditutup Anjlok ke Rp18.128 per Dolar AS, Analis Proyeksikan Masih Melemah Besok
LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah tajam 114 poin ke level Rp18.128 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.014 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bahkan sempat tertekan hingga melemah 115 poin sebelum akhirnya menutup perdagangan di level tersebut.

Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global yang masih membebani pergerakan pasar keuangan. Dari dalam negeri, percepatan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar. APBN 2026 tetap dirancang sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung delapan agenda prioritas nasional, mulai dari ketahanan pangan dan energi, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, pembangunan desa, pemberdayaan koperasi serta UMKM, penguatan sistem pertahanan semesta, hingga percepatan investasi dan perdagangan global.

Di sisi lain, sentimen domestik turut dipengaruhi melemahnya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026 dan lebih rendah dibandingkan posisi Januari 2026 yang mencapai 127,0. Meski demikian, level IKK masih berada di atas angka 100 yang menandakan keyakinan konsumen tetap berada di zona optimistis.

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah tidak terlepas dari kuatnya tekanan yang datang dari berbagai sentimen eksternal maupun domestik.

Pada perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut meski pergerakannya diperkirakan tetap fluktuatif. "Pada perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp.18.120- Rp.18.180," ujar dia dalam keterangannya, Kamis (9/7/2026).

Dari sisi eksternal, dolar AS memperoleh dukungan kuat dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah serangan terhadap kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi energi dunia. Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran internasional, bahkan sejumlah perusahaan asuransi perang mulai menyarankan penghentian sementara pelayaran melalui Selat Hormuz sembari mengevaluasi kembali cakupan perlindungan polis mereka.

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar juga ditopang oleh risalah rapat Federal Reserve bulan Juni yang menunjukkan mayoritas pembuat kebijakan masih terbelah mengenai kebutuhan kenaikan suku bunga tahun ini. Namun, risalah tersebut mengungkap meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi AS yang masih bertahan tinggi sehingga membuka peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun apabila tekanan harga belum mereda.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya