Mesin Uang Raksasa Bernama Piala Dunia
Tim langit 7
Kamis, 09 Juli 2026 - 22:00 WIB
Mesin Uang Raksasa Bernama Piala Dunia
Oleh: Hanna Fauzie
(Pecinta Sepak Bola, Pemerhati Isu Internasional)
LANGIT7.ID-Bagi mayoritas pecinta sepak bola, Piala Dunia identik dengan rivalitas, drama di lapangan, gol-gol spektakuler, dan persaingan demi mengangkat trofi paling bergengsi di dunia. Namun, di balik setiap laga, ada cerita lain yang tak kalah menarik: bisnis raksasa yang menggerakkan industri olahraga global.
Piala Dunia yang digelar di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko diprediksi menjadi turnamen paling mendulang cuan dalam sejarah olahraga. FIFA, si empu Piala Dunia, memproyeksikan pendapatan hampir USD9 miliar hanya dari penyelenggaraan turnamennya saja. Jika digabungkan dengan seluruh siklus komersial 2023–2026, maka pemasukan FIFA kira-kira bisa mencapai USD14 miliar, angka sulit dibayangkan satu dekade lalu.
Dengan format baru yang menghadirkan 48 negara peserta dan 104 pertandingan, setiap laga bukan hanya pertarungan di lapangan hijau, melainkan aset komersial yang memiliki nilai jual selangit.
Penambahan jumlah pertandingan memang sering dipromosikan sebagai upaya memperluas kesempatan bagi lebih banyak negara untuk tampil di Piala Dunia. Namun, di sisi lain, semakin banyak pertandingan berarti semakin banyak hak siar yang bisa dijual, lebih banyak ruang bagi sponsor, tiket yang dipasarkan, hingga paket hospitality eksklusif yang ditawarkan kepada perusahaan dan kalangan premium.
Di era ketika perhatian publik semakin terpecah oleh berbagai platform digital, olahraga langsung atau live sports justru menjadi komoditas yang semakin berharga. Tidak banyak konten yang mampu membuat ratusan juta orang di berbagai belahan dunia menonton pada waktu yang sama. Inilah alasan mengapa hak siar Piala Dunia selalu menjadi rebutan televisi maupun platform streaming.
(Pecinta Sepak Bola, Pemerhati Isu Internasional)
LANGIT7.ID-Bagi mayoritas pecinta sepak bola, Piala Dunia identik dengan rivalitas, drama di lapangan, gol-gol spektakuler, dan persaingan demi mengangkat trofi paling bergengsi di dunia. Namun, di balik setiap laga, ada cerita lain yang tak kalah menarik: bisnis raksasa yang menggerakkan industri olahraga global.
Piala Dunia yang digelar di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko diprediksi menjadi turnamen paling mendulang cuan dalam sejarah olahraga. FIFA, si empu Piala Dunia, memproyeksikan pendapatan hampir USD9 miliar hanya dari penyelenggaraan turnamennya saja. Jika digabungkan dengan seluruh siklus komersial 2023–2026, maka pemasukan FIFA kira-kira bisa mencapai USD14 miliar, angka sulit dibayangkan satu dekade lalu.
Dengan format baru yang menghadirkan 48 negara peserta dan 104 pertandingan, setiap laga bukan hanya pertarungan di lapangan hijau, melainkan aset komersial yang memiliki nilai jual selangit.
Penambahan jumlah pertandingan memang sering dipromosikan sebagai upaya memperluas kesempatan bagi lebih banyak negara untuk tampil di Piala Dunia. Namun, di sisi lain, semakin banyak pertandingan berarti semakin banyak hak siar yang bisa dijual, lebih banyak ruang bagi sponsor, tiket yang dipasarkan, hingga paket hospitality eksklusif yang ditawarkan kepada perusahaan dan kalangan premium.
Di era ketika perhatian publik semakin terpecah oleh berbagai platform digital, olahraga langsung atau live sports justru menjadi komoditas yang semakin berharga. Tidak banyak konten yang mampu membuat ratusan juta orang di berbagai belahan dunia menonton pada waktu yang sama. Inilah alasan mengapa hak siar Piala Dunia selalu menjadi rebutan televisi maupun platform streaming.