Kementerian Kebudayaan Buka Sayembara Produksi Film Kepahlawanan 2026, Pendaftaran Dimulai 10 Juli
Tim langit 7
Kamis, 09 Juli 2026 - 22:05 WIB
(Dok: Kementerian Kebudayaan)
LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Film, Musik, dan Seni, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan secara resmi meluncurkan Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia 2026. Program ini merupakan upaya pemerintah dalam mendorong lahirnya karya-karya sinema yang mengangkat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada periode 1945–1950 sekaligus memperkuat memori kolektif bangsa melalui medium film.
Mengusung tema "Menyulam Ingatan, Merawat Kebangsaan: Menghidupkan Peristiwa Sejarah 1945–1950 dalam Sinema Kontemporer", program ini menjadi bentuk afirmasi Kementerian Kebudayaan terhadap pengembangan film bertema sejarah dan kepahlawanan. Melalui program ini, pemerintah mendorong hadirnya karya-karya sinema yang tidak hanya memiliki kualitas artistik, tetapi juga mampu menghadirkan kembali nilai-nilai perjuangan, persatuan, kemanusiaan, dan kebangsaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengatakan bahwa film merupakan produk budaya yang memiliki kekuatan besar untuk menghidupkan kembali sejarah sekaligus menjadi media edukasi yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, di tengah perkembangan industri perfilman nasional, negara perlu memberikan afirmasi bagi lahirnya film-film bertema sejarah dan kepahlawanan agar semakin banyak kisah perjuangan bangsa yang dapat dihadirkan kepada publik melalui bahasa sinema.
"Film adalah produk budaya yang memiliki platform yang sangat baik untuk menghadirkan edukasi sejarah sekaligus menanamkan nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan kebangsaan kepada masyarakat,” jelas Menbud dalam keterangannya, Kamis (9/7/2026).
Menbud menjelaskan bahwa periode 1945–1950 merupakan fase yang sangat menentukan dalam perjalanan Republik Indonesia. Selain perjuangan bersenjata, masa tersebut juga diwarnai perjuangan diplomasi, ekonomi, pers, serta gerakan seni dan kebudayaan yang menyimpan banyak kisah penting, namun belum banyak diangkat ke layar lebar. Melalui program ini, Kementerian Kebudayaan membuka ruang bagi para sineas untuk mengembangkan berbagai perspektif dan gagasan kreatif dengan tetap berpijak pada riset sejarah serta didampingi para sejarawan. "Kita ingin membawa masa lalu ke hari ini agar tetap relevan. Ruang kreativitas sangat terbuka, tetapi konteks sejarah harus tetap terjaga melalui kolaborasi dengan para sejarawan,” tambahnya.
Direktur Film, Musik, dan Seni, Irini Dewi Wanti, menjelaskan bahwa program ini dirancang tidak hanya sebagai fasilitasi produksi film, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara insan perfilman, sejarawan, akademisi, arsiparis, penulis skenario, produser, sutradara, dan praktisi perfilman. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan karya yang memadukan kreativitas sinematik dengan akurasi sejarah.
“Direktorat Film, Musik, dan Seni telah menyiapkan seluruh perangkat pelaksanaan program, mulai dari pedoman pelaksanaan, mekanisme pendaftaran, sistem seleksi, perangkat penilaian, hingga skema pendampingan. Seluruh proposal akan melalui tahapan seleksi administrasi, penilaian dewan juri, presentasi (pitching), penetapan penerima program, pengembangan proyek, hingga proses produksi dan monitoring yang dilaksanakan secara terbuka, profesional, dan berorientasi pada kualitas karya,” jelasnya.
Mengusung tema "Menyulam Ingatan, Merawat Kebangsaan: Menghidupkan Peristiwa Sejarah 1945–1950 dalam Sinema Kontemporer", program ini menjadi bentuk afirmasi Kementerian Kebudayaan terhadap pengembangan film bertema sejarah dan kepahlawanan. Melalui program ini, pemerintah mendorong hadirnya karya-karya sinema yang tidak hanya memiliki kualitas artistik, tetapi juga mampu menghadirkan kembali nilai-nilai perjuangan, persatuan, kemanusiaan, dan kebangsaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengatakan bahwa film merupakan produk budaya yang memiliki kekuatan besar untuk menghidupkan kembali sejarah sekaligus menjadi media edukasi yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, di tengah perkembangan industri perfilman nasional, negara perlu memberikan afirmasi bagi lahirnya film-film bertema sejarah dan kepahlawanan agar semakin banyak kisah perjuangan bangsa yang dapat dihadirkan kepada publik melalui bahasa sinema.
"Film adalah produk budaya yang memiliki platform yang sangat baik untuk menghadirkan edukasi sejarah sekaligus menanamkan nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan kebangsaan kepada masyarakat,” jelas Menbud dalam keterangannya, Kamis (9/7/2026).
Menbud menjelaskan bahwa periode 1945–1950 merupakan fase yang sangat menentukan dalam perjalanan Republik Indonesia. Selain perjuangan bersenjata, masa tersebut juga diwarnai perjuangan diplomasi, ekonomi, pers, serta gerakan seni dan kebudayaan yang menyimpan banyak kisah penting, namun belum banyak diangkat ke layar lebar. Melalui program ini, Kementerian Kebudayaan membuka ruang bagi para sineas untuk mengembangkan berbagai perspektif dan gagasan kreatif dengan tetap berpijak pada riset sejarah serta didampingi para sejarawan. "Kita ingin membawa masa lalu ke hari ini agar tetap relevan. Ruang kreativitas sangat terbuka, tetapi konteks sejarah harus tetap terjaga melalui kolaborasi dengan para sejarawan,” tambahnya.
Direktur Film, Musik, dan Seni, Irini Dewi Wanti, menjelaskan bahwa program ini dirancang tidak hanya sebagai fasilitasi produksi film, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara insan perfilman, sejarawan, akademisi, arsiparis, penulis skenario, produser, sutradara, dan praktisi perfilman. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan karya yang memadukan kreativitas sinematik dengan akurasi sejarah.
“Direktorat Film, Musik, dan Seni telah menyiapkan seluruh perangkat pelaksanaan program, mulai dari pedoman pelaksanaan, mekanisme pendaftaran, sistem seleksi, perangkat penilaian, hingga skema pendampingan. Seluruh proposal akan melalui tahapan seleksi administrasi, penilaian dewan juri, presentasi (pitching), penetapan penerima program, pengembangan proyek, hingga proses produksi dan monitoring yang dilaksanakan secara terbuka, profesional, dan berorientasi pada kualitas karya,” jelasnya.